Perangkap Kesia-siaan

Reblogged from ESQ Way 165 Ary Ginanjar | Training Merchandise DVD Buku:

Click to visit the original post

Foto: rezaecha.wordpress.com

Dunia memang lautan senda gurau. Pesonanya adalah muara tipu daya. Kadang tak lagi terbaca sisi kebenaran dan kebathilan padanya, bahkan seringkali memasang perangkap kesia-siaan diantaranya. Perangkap yang membuat seseorang merasa menjadi pahlawan tetapi sesungguhnya hanya menuai kehampaan di mata Allah Yang Maha Adil. Jerat-jerat yang mengundang decak kagum dan lambungan pujian tetapi bernilai kosong di hadapan Sang Pemilik Mizan.

Read more… 90 more words

Orang yang paling merugi perbuatannya adalah orang yang sia-sia perbuatannya selama di dunia sedang mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya.(Qs18:103-104) Perbuatan yang menguntungkan adalah perbuatan yang dinilai sebagai ibadah oleh Allah meskipun terlihat sederhana

Rahasia Dicintai, Tak Sekedar Mencintai II

Lanjutan dari Rahasia Dicintai, Tak Sekedar Mencintai

Dari Abul-Abbas Sahl bin Sa’d As-Sa’idi rodhiallohu ‘anhu dia berkata: Seorang laki-laki datang kepada Nabi sholallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata, “Wahai Rasulullah, tunjukkan aku suatu amal, jika aku lakukan akau akan dicintai Alloh dan dicintai oleh manusia. “Rasulullah sholallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Zuhudlah terhadap dunia, niscaya dicintai Alloh dan zuhud lah terhadap apa yang dimiliki orang lain, niscaya mereka akan mencintaimu” (HR. Ibnu Majah)

Zuhud pada dunia adalah nggak ada ambisi atau ketamakan terhadap dunia, karena udah yakin, memiliki dunia bukan suatu tanda kemuliaan. Udah yakin dunia bukan segala-galanya, namun yang segala-galanya baginya adalah Allah. Namun bukan meninggalkan dunia (harta). Tapi mempergunakan dunia sebagai alat untuk ibadah, bukan menjadikannya sebagai tujuan utama dan tidak diagungkan.

Sedangkan zuhud terhadap apa yang dimiliki orang lain adalah tidak berambisi untuk memiliki/mengambil apa yang menjadi milik orang lain, udah nggak peduli atau nggak ngarep terhadap apa yang dimiliki/ yang ada pada orang lain, yang penting orang lain tersebut bahagia dan kita bisa memberi manfaat/ berbuat baik padanya, udah cukup. Ketampanan/kecantikannya, hartanya, jabatannya, dll memang bisa mengesankan, tapi hal itu nggak ada apa-apanya dibandingkan orang tersebut. Baginya, diri orang lain itu lah yang benar-benar berharga dibandingkan dengan apa yang dimiliki orang lain tersebut.

Ada kalimat,

“Aku ingin berbuat baik ke kamu. Aku minta maaf jika apa yang aku perbuat mengecewakan. Aku harap kehadiranku memberikan manfaat bagimu dan membuatmu merasa nyaman dan bahagia. Semampuku aku akan menjagamu. Engkau ciptaan Allah yang berharga. Dan aku tak berharap apa-apa darimu atas apa yang aku lakukan, karena Allah yang kan membalas setiap perbuatan baik yang aku lakukan.”

Jika saat berinteraksi dengan seseorang kalimat tersebut ada dalam hati kita dengan jujur dan tulus, dan kejujuran kalimat tersebut dibuktikan dalam sikap dan perbuatan (tapi nggak perlu diucapin dengan lisan ya, kalimat di atas tangkap dengan bahasa perasaan saja, tidak harus persis seperti di atas), lalu orang lain dengan hatinya bisa menangkap pesan ini lewat sikap dan perbuatan kita, coba lihat deh apa yang kan Allah takdirkan untuk kita. Kalau saya sendiri ketemu sama orang kayak gini, hati bakalan nyaman, adem. |Tapi saya udah melakukannya tapi kok nggak terjadi seperti itu ya, bar? | Berarti belum melakukan sepenuhnya. Kalau masih ada pertanyaan tersebut dalam hati, berarti masih ada perasaan berharap, benar? Jadi nggak usah difikirkan, yang tulus |

Tapi gimana bisa punya ketulusan yang demikian?

Seseorang kan punya ketulusan dan keikhlasan karena udah yakin tertanam dalam hati Allah lah segala-galanya. Ia berbuat baik pada orang lain, ingin memberikan kebahagiaan orang lain, menyayangi orang lain karena ia tahu Allah suka pada orang yang berbuat demikian. Dan ia pun tak mengharap balasan dari orang lain, karena udah yakin cukup Allah yang membalas kebaikan lewat jalan mana aja yang Allah kehendaki. Ia udah yakin, Allah Maha Melihat atas apa yang ia kerjakan. Apakah setelah berbuat baik orang yang ditolong tersebut malah marah-marah, nggak ngucapin terima kasih, nggak apa-apa. Ia tetep seneng karena udah bisa berbuat baik. Karena setiap kebaikan yang ia perbuat, Allah pasti membalas kebaikan yang lebih. Alhamdulillah.

|Bagaimana jika kita mencintai seseorang, kita berbuat baik padanya dengan harapan agar ia juga mencintai kita? | Menurutku ini juga nggak perlu dilakukan. Itupun masih ngarep pada orang lain. Allah udah tahu segala isi hati kita. Misal kita mencintai seseorang, Allah udah tahu. Segala keinginan yang ada dalam hati kita, Allah juga udah tahu semuanya. Allah pun juga berkuasa memberikan jalan keluar yang terbaik untuk hamba-Nya. Jadi, “titipkan” ke Allah aja. Bukan “berharap padanya”, tapi “berharap pada-Nya”. Karena yang berkuasa atas takdir, yang berkuasa atas hati setiap orang adalah Allah. Hanya Allah yang berkuasa membolak-balikan hati setiap orang. Jadi, kita berbuat baik cukup hanya karena Allah. Apakah orang lain mencintai kita atau nggak, nanti Allah yang urus. (Haditsnya nanti, Insya Allah dibahas di bagian terakhir tulisan ini.)

Apa bedanya “berharap padanya” dengan “berharap pada-Nya”?

Kalau “berharap padanya”, melakukan apapun yang penting orang lain senang meskipun melakukan apa yang bikin Allah nggak seneng. Misal, kita lebih mengutamakan orang yang kita cintai, mau berkorban untuknya, yang penting dia seneng tapi nggak dengan Allah. Allah malah dinomor duakan bahkan dilupakan.

Tapi kalau “berharap pada-Nya”, melakukan kebaikan, membuat orang lain bahagia hal itu dilakukan semata-mata karena kepatuhan ia pada Allah. Karena mencintai Allah -lah, maka ia mencintai orang lain dengan ketulusan. Tidak ada maksud lain dari apa yang dilakukannya. Dan cara-cara yang dilakukan seseuai dengan cara yang Allah sukai. | Tapi misalnya orang yang kita cintai nggak seneng kalau kita lebih mengutamakan cara-cara Allah gimana nih? | Ajak ia pelan-pelan pada kebaikan. | Kalau nggak mau? | Ya, kita nggak bisa memaksa. Hati seseorang dalam kuasa Allah. Kita nggak bisa menuntut apa-apa darinya. Jika ia nggak suka pada apa yang kita lakukan, yang penting kita tetep pilih Allah, Allah -lah yang segala-galanya. Manusia boleh murka, tapi jangan sampe untuk Allah. Sekuat tenaga untuk teguh berbuat demikian. Karena mudah bagi Allah suatu saat nanti membuat ia ridho pada kita.

Barangsiapa memurkakan (membuat marah) Allah untuk meraih keridhaan manusia maka Allah murka kepadanya dan menjadikan orang yang semula meridhoinya menjadi murka kepadanya. Namun barangsiapa meridhokan Allah (meskipun) dalam kemurkaan manusia maka Allah akan meridhoinya dan meridhokan kepadanya orang yang pernah memurkainya, sehingga Allah memperindahnya, memperindah ucapannya dan perbuatannya dalam pandanganNya. (HR. Ath-Thabrani)

Kalau pacaran itu nyenengin buat orang yang kita cintai, tapi kira-kira Allah suka nggak ya? Hehe…. Sedikit cerita, dulu ada seseorang yang di uji oleh Allah, antara cinta Allah atau manusia. Dia pilih cinta Allah, tapi ujian nambah lagi. Begitulah, saat berusaha milih Allah, ujiannya malah nambah bertingkat hingga suatu saat dia mulai bingung dan sempat terlena dan lebih mengutamakan manusia daripada Allah, tepat saat itu ya…… Allah memberikan keputusan-Nya yang bikin hatinya rada nyeksek. Nyekseknya bagaimana, cukup orang itu yang tahu. Pokoknya hatinya nyeksek dah, sampe kesehatan fisiknya juga kena. Hadits tersebut memang beneran, yakin, saya harap temen-temen bisa mengambil pelajaran lewat hadits dan cerita tersebut dan tidak ikut mengalaminya. Lewat ujian-ujian dari cerita tersebut memang banyak hikmahnya dan membuat semakin yakin, memang benar, Allah -lah yang segala-galanya. Mencintai Allah adalah pondasi dan jangan sampai lepas. Jangan sampai kita menjauhi Allah hanya untuk mendekati orang lain, tapi dekatilah Allah dan biarlah Allah yang membuat orang lain dekat pada kita. Allah berkuasa atas segala sesuatu.

“Orang yang belas kasihan akan dikasihi Arrahman (Yang Maha Pengasih), karena itu kasih sayangilah yang di muka bumi, niscaya kamu dikasih-sayangi mereka yang di langit.” (HR. Bukhari)

Kebaikan-kebaikan (kasih sayang) yang kita lakukan adalah dengan keikhlasan. Cukup biar Allah mencintai kita. Dan, jika Allah udah mencintai kita, maka……

“Hadis riwayat Abu Hurairah ra., ia berkata:
Rasulullah saw. bersabda: Sesungguhnya apabila Allah mencintai seorang hamba, maka Dia akan memanggil Jibril dan berkata: Sesungguhnya Aku mencintai si polan maka cintailah dia! Jibril pun mencintainya. Kemudian dia menyeru para penghuni langit: Sesungguhnya Allah mencintai si polan, maka cintailah dia! Para penghuni langitpun mencintainya. Kemudian dia pun diterima di bumi. Dan apabila Allah membenci seorang hamba, maka Dia memanggil Jibril dan berkata: Sesungguhnya Aku membenci si polan, maka bencilah pula dia! Jibril pun membencinya. Kemudian dia menyeru para penghuni langit: Sesungguhnya Allah membenci si polan, maka bencilah kepadanya. Para penghuni langit pun membencinya. Kemudian kebencianpun merambat ke bumi.” (Shahih Muslim No.4772)

Ketampanan/kecantikan, kemewahan, punya talenta yang menarik, dsb itu hanya tampilan luar yang menjadi daya tarik di awal aja. Hal tersebut memang bisa menjadi nilai tambah. Tapi kesenangannya bersifat sementara. Namun sikap zuhud dan ketulusan yang dilakukan itulah yang kan membekas di hati seseorang dan membuat yang ada didekatnya merasa nyaman.

“Kamu tidak bisa memperoleh simpati semua orang dengan hartamu tetapi dengan wajah yang menarik (simpati) dan dengan akhlak yang baik.” (HR. Abu Ya’la dan Al-Baihaqi)

| Bar, kenapa kok nggak dijelasin cara-cara detailnya. Misal, pertama harus senyum, kedua bersikap baik dan sopan, sabar, dan seterusnya? | Hal itu hanya bersifat teknis. Lewat tulisan ini ingin menjelaskan apa yang seharusnya tertatanam dalam hati kita. Jika dalam hati udah tertanam demikian, maka senyuman, sikap baik, kesopanan, cara berbicara yang baik, dll itu akan muncul dengan sendirinya. Sikap dan perbuatannya juga lebih jujur dari hati, tulus. Jika teknis bagus tapi hatinya kurang, suatu saat bisa bikin kecewa orang lain. Karena hati nggak bisa bohong. Lagipula bisa gak bernilai ibadah, kan sayang.|

“Ketahuilah bahwa dalam diri ini terdapat segumpal daging, jika dia baik maka baiklah seluruh tubuh ini dan jika dia buruk, maka buruklah seluruh tubuh; ketahuilah bahwa dia adalah hati” (HR. Muttafaq’ Alaih)

Kesimpulannya,
kita mencintai Allah, baik-baik ke Allah bukan untuk berharap agar dicintai manusia, namun sebaliknya, kita berbuat baik, mengasihi, menginginkan orang lain bahagia dengan cara-cara Allah agar Allah mencintai kita. Lewat tulisan ini juga ingin menyampaikan, kalau tujuan kita Allah, dan Allah mencintai kita, maka tidak ada kekhawatiran lagi. Rezeki, kebahagiaan, jalan hidup, relasi dengan orang lain, urusan akhirat, semuanya beres di urus Allah.

Cukuplah Allah bagiku; tidak ada Tuhan selain Dia. Hanya kepada-Nya aku bertawakal dan Dia adalah Tuhan yang memiliki Arasy yang agung (Qs At-Taubah:129)

Rahasia Dicintai, Tak Sekedar Mencintai

Abis ngomongin konsep jodoh, kali ini ngomongin yang nggak jauh-jauh beda. Hmm… saya belum tau mau dimulai dari mana tulisan ini.

Jadi, gimana agar dicintai orang lain? Tapi sebelumnya mari kita balik pertanyaannya, apa yang membuat kita mencintai orang lain? Dari situ kita bisa tau gimana agar dicintai orang lain.

Cinta lebih pada sesuatu yang menentramkan, tenang, nyaman, aman. Kita kan mencintai seseorang jika kehadirannya membuat kita merasakan demikian. Jadi, apakah mungkin kita mencintai orang yang suka berperilaku buruk, yang kehadirannya membuat kita nggak aman, yang suka berbuat dzalim? Ok, dengan hati yang jujur, kita nggak setuju.

Misalnya ada cewek cantik dan kaya. Lalu ada cowok nyamperin dan bilang cinta. Lalu saat ditanya kenapa alasan cintanya, ya karena cewek tersebut cantik dan kaya. Memang si cewek seneng karena disebut cewek cantik dan kaya. Namun jika diselami hatinya lebih dalam, hati cewek ini akan bertanya-tanya, ” Ini cowok cinta karena aku kaya, gimana kalau nanti malam rumahku kemalingan? Bisa-bisa besoknya aku dicampakkan. Ini cowok cinta karena aku cantik, gimana kalau nanti malam pas tidur wajahku digigit Tomcat? Bisa-bisa aku kan diabaikannya.” Tetap aja ada rasa “nggak tentram” di hatinya atas cinta cowok tersebut. Maka, akan ada keraguan dari hati si cewek untuk mencintai cowok tersebut.

Ada seseorang yang menolong kita, saat itu kita berfikir “Ini orang baik banget, jarang-jarang ada orang seperti ini, Subhanallah”. Lalu selesai menolong, orang tersebut mengatakan, “Wani piro?” , langsung dah pandangan kita jadi berubah.

Rahasia Dicintai

Misalnya, seorang ibu membawa barang yang berat, lalu ada seseorang menolong ibu tersebut membawakan barang. | Sini, bu. Saya bantu | Udah, nak. Gak usah. Ini berat (si ibu basa-basi, padahal berharap ditolong memang) | Udah, bu. Gak apa-apa. Nanti ibu capek. | Setelah menolong ibu tersebut, si anak pamitan pulang. Lalu ibu ngasi sedikit uang. Sedikit karena hanya selembar, tapi warnanya ungu (10 ribu), lumayan. | Gak usah, bu. Terima kasih | Si anak menolak, tapi si ibu memaksa. Akhirnya anak menerima uang tersebut sambil mengucapkan terima kasih banyak. Lalu saat berjalan pulang, si anak bertemu seorang pengemis yang tampaknya udah beberapa hari belum makan karena terlihat jelas dari wajahnya. Lalu anak tersebut memberikan uang 10 ribu tadi kepada pengemis sambil tersenyum, padahal anak ini juga belum makan. Tapi ia memberikannya karena tahu pengemis tersebut lebih membutuhkan | Ini, pak. Ada rezeki buat bapak | Terima kasih banyak, den. Semoga si aden jadi orang sukses yang bermanfaat buat orang banyak, dicintai Allah. Terima kasih banyak, den | Iya, pak sama-sama (sambil tersenyum tulus). | Meskipun terhadap pengemis, si anak ini tetap bersikap sopan terhadap pengemis tersebut. Dan si ibu tadi melihat anak ini dari jauh saat bertemu pengemis tersebut, apa kira-kira yang ada dalam hati si ibu? Hati si ibu ini akan tersenyum, merasakan kenyamanan, ketentraman, ketenangan. Jika si ibu ini bertemu lagi dengan si anak tersebut, ia tak merasa khawatir akan diganggu, diusik, atau apapun yang menganggu ketentraman si ibu. Kenapa demikian? Karena udah yakin, kalau anak ini adalah orang yang tulus. Ia tak berharap balasan kebaikan dari orang lain. Ia pun tak kan mau berbuat sesuatu yang menganggu/ mengusik/ menyakiti orang lain. Si ibu ini udah yakin dalam hatinya kalau anak ini pasti suka memberikan manfaat/kebahagiaan pada banyak orang tanpa mengharap apa-apa dari orang lain. Si ibu ini akan merasakan ketenangan, ketentraman, nyaman atas kehadiran si anak tersebut.

Contoh simplenya seperti orang tua kita, yang rela berjuang demi kebahagiaan anak-anaknya. Meskipun anaknya nggak ngucapin terima kasih, bahkan banyak yang nggak nurut sama orang tuanya (menyakiti perasaan orang tuanya), tapi tetep orang tua kita berjuang agar anaknya sukses dan bahagia. Oleh karenanya nggak meleset, kita mencintai orang tua kita sendiri, bukan orang tua temen kita.

Kira-kira kita lebih cinta pada orang yang mencintai/berbuat baik pada kita karena ada maunya atau yang memang tulus? Saya yakin kita udah tahu jawabannya yang mana. Ini bukan hanya membicarakan tentang sepasang kekasih. Tapi juga dalam keluarga, persahabatan, dll.

Rahasia ini sebenarnya tercantum dalam sabda Rasulullah
Dari Abul-Abbas Sahl bin Sa’d As-Sa’idi rodhiallohu ‘anhu dia berkata: Seorang laki-laki datang kepada Nabi sholallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata, “Wahai Rasulullah, tunjukkan aku suatu amal, jika aku lakukan akau akan dicintai Alloh dan dicintai oleh manusia. “Rasulullah sholallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Zuhudlah terhadap dunia, niscaya dicintai Alloh dan zuhud lah terhadap apa yang dimiliki orang lain, niscaya mereka akan mencintaimu” (HR. Ibnu Majah)

Tapi masalahnya, gimana biar punya hati tulus dan ikhlas? Apa maksud zuhud dalam hadits tersebut? Insya Allah kita bahas lagi di tulisan selanjutnya aja ya.

Jodoh di Tangan Allah atau di Tangan Manusia?

Tiba-tiba ingin membicarakan topik ini. Ini bermula saat saya ngetweet tentang jodoh di akun twitter, tiba-tiba yang meretweet jauh lebih banyak daripada tweet-tweet biasanya. Termasuk yang berantusias untuk membaca tulisan ini, itu tanda-tanda orang yang…..belum ketemu jodohnya. Benar? | Nggak jadi baca deh, bar | Jangan gitu, sabar, siapa tau abis baca ini lalu ketemu. Gak apa-apa. Siapa tau do’anya tiba-tiba diijabah, ya? Allah Maha Mendengar bisikan hati yang terdalam.

So, Apakah jodoh telah ditetapkan? Apakah jodoh ada ditangan Allah yang kalau nggak dijemput nggak bakal ketemu? Apakah jodoh adalah pilihan kita bebas memilih tanpa paksaan dari Allah? Atau…..?

Jadi, menurut pemahamanku lewat Al-Qur’an dan Hadits jodoh kita sebenarnya telah ditetapkan sebelum Allah menciptakan alam ini. Hal sedetil-detilnya adalah takdir yang Allah program secara sangat sempurna, sangat adil, sesuai sunnatullah (tentu, karena Allah yang bikin), dan sangat cermat. Ada yang berpendapat bahwa jodoh belum ditentukan namun berada pada pilihan manusia. Hal ini dengan alasan bahwa tidak ada dalil yang menyebutkan jodoh telah ditetapkan. Memang demikian, namun menurut pemahamanku berdasar surat Al-An’am ayat 59 “…tidak jatuh sebutir biji pun dalam kegelapan bumi dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering melainkan tertulis dalam Lauhul Mahfuzh”, hal ini menjelaskan bahwa hal sedetil-detilnya yang terjadi di dunia ini adalah takdir yang telah tertulis dalam lauhul mahfuzh. Kalau hal kecil saja tertulis dalam Lauhul Mahfuzh, apalagi tentang jodoh. Agar tidak salah paham dulu, untuk lebih jelasnya tentang konsep takdir, bisa dibaca Takdir Allah :http://wp.me/pkd9H-ak

Ada juga yang berpendapat bahwa jodoh ada di tangan tuhan, kalau nggak dijemput ya tetep ada di tangan tuhan, nggak ketemu. Sebenarnya meskipun tanpa ikhtiar bisa jadi orang tersebut ketemu jodohnya. Ah, masa? Ini kisah nyata, saya pernah melihat orangnya. Ada seseorang laki-laki padahal fisiknya sangat terbatas nggak ngapa-ngapain tiba-tiba ada wanita yang ingin menjadi suaminya. Lalu nikah. Dan sekarang beliau sudah punya anak 2. Kok bisa? Ya bisa. Karena jodoh bukan ditentukan oleh manusia, tapi mutlak ditentukan Allah. Kalau Allah menanamkan cinta pada wanita untuk mencintai laki-laki, siapa yang bisa menghalangi? Bahkan wanita itu sendiri nggak bakal bisa menghilangkan cinta tersebut kalau Allah nggak menghendaki. Meskipun orang lain membenci kita, kita nggak bisa memaksa ia untuk mencintai kita. Cinta nggak bisa dipaksa. Semuanya ada dalam kuasa Allah. Oleh karenanya nggak perlu ngemis cinta ke orang lain.| “Cintailah diriku”.| Mau ngapain? Bahkan ia tidak berkuasa atas hatinya sendiri. Tidak ada orang yang berkuasa atas hatinya sendiri atas izin Allah | Saya mau cinta pada orang ini saja. Bim salabim.| Tiba-tiba beneran cinta. | Saya mau melupakan dan nggak mau mencintai orang tua itu. Bim salabim. | Tiba-tiba amnesia beneran. Kita nggak pernah tuh nemuin yang kayak gini. Tetep aja kalau kata Allah nggak, ya tetep nggak bisa .Saya harap ini bisa dipahami maksudnya. Jadi jangan berharap agar dicintai orang lain karena mereka sendiri tidak berkuasa atas hati mereka sendiri. Lakukan kebaikan pada orang lain sebagai amal ibadah, memberikan semangat dan optimisme pada orang lain sebagai amal ibadah, cukup biar Allah ridho ke kita. Allah Maha Melihat apa saja yang kita lakukan. Meminta hanya pada Allah Penguasa segala-galanya. Dan Allah tahu mana yang terbaik.

“Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu”, (Al-Ikhlas:2)

| Tapi kok saya mencintai orang yang suka berperilaku buruk ya? Apakah Allah yang membuatku mencintai orang yang seperti itu? Berarti saya tidak salah? | Ya, memang benar atas izin Allah itu terjadi. Tapi tanyakan kembali pada diri sendiri, kenapa bisa demikian? Mungkin kita berperilaku yang nggak disukai Allah. Entah karena cara kita yang bergaulnya kurang baik, kurang menjaga diri dalam berkomunikasi, kurang tobatnya, dll. Takdir Allah pasti benar, yang nggak benar adalah perilaku kita yang perlu untuk diubah. Semua memang dalam kuasa Allah, namun hukum sebab akibat yang Allah tetapkan tetaplah terjadi. Jika ada sesuatu yang buruk terjadi, maka tanyakan pada diri sendiri, apa yang telah kita perbuat kepada Allah Yang Maha Menentukan segala-galanya? Wallahu A’lam. | Makanya cinta, ya sama Allah saja. Selain-Nya, cukup mencintai karena-Nya. Itu cinta paling utama dan merupakan pondasi. | Pondasi? | Ya, menurut pengalaman seseorang, kehilangan cinta untuk mencintai Allah sama saja jatuh ke sungai lalu terbawa arus nggak jelas arahnya ke mana. Tak punya sandaran yang sangat kuat dan kokoh. Gelisah, hilang arah akhirnya tersesat. Alhamdulillah orang tersebut ditolong Allah dan mudah-mudahan tobat beneran untuk kembali ke Allah. Semoga nggak terulang lagi.

Balik lagi tentang konsep takdir.
Misalnya saya dijodohkan tapi saya kurang berminat terhadap calon tersebut. Orang tua memaksa. Suatu saat ternyata ada suatu hal yang menyebabkan pernikahan itu batal, lalu saya menikahi wanita lain pilihanku sendiri. Keluarga merestui dan akhirnya saya menikah. Jadi, apakah berarti jodohku bisa berubah dan ditentukan olehku? Tidak, segala proses yang terjadi inilah takdir dari Allah.
Jadi takdir yang tertulis dalam Lauhul Mahfuzh adalah rahasia Allah di mana semua makhluk-Nya tidak ada yang mengetahui kecuali yang dikehendaki-Nya. Rahasia yang telah ditetapkan ini ada di sisi Allah. Kita sebagai makhluk-Nya tak perlu pusing memikirkan tentang apa yang menjadi rahasia Allah tersebut. Karena sekuat dan secerdas apapun kemampuan kita memang tidak akan pernah mampu.
Allah sudah tahu siapa jodoh masing-masing dari kita suatu saat nanti. Sudah ditentukan. Ketemunya di mana, kapan, dengan cara bagaimana. Bisa di dunia, bisa juga ketemunya baru di akhirat. Allah tidak mempertemukan jodoh lebih cepat dan juga tidak lebih lambat, namun Allah mempertemukannya di waktu yang tepat.

Kalau semua udah ditetapkan, jodoh udah ditetapkan, berarti enak nih kita nggak perlu ikhtiar lagi. | Tunggu dulu. Penjelasannya insya Allah saya lanjutkan lagi di tulisan selanjutnya

Kalau semua udah ditetapkan, jodoh udah ditetapkan, apalagi artinya kita berusaha?

Kita fikirkan apa yang seharusnya manusia fikirkan, bukan memikirkan apa yang mejadi urusan Allah. Karena berusaha bukanlah untuk menentukan jodoh dan bukan menentukan takdir, namun sebagai amal ibadah. Allah nyuruh gini ya lakukan semampunya, Allah nggak suka kita berbuat kayak gitu, ya sekuat tenaga hindari. Manusia berusaha untuk mencari jodoh dengan kriteria-kriteria yang paling disukai dalam pandangan Allah. Hal ini bisa merujuk pada Al-Qur’an dan Hadits. | Berarti kita yang menentukan jodoh, bar? | Bukan, bukan kita yang menentukan jodoh, ini sebagai amal ibadah. Karena nanti bisa jadi jodohnya memang si dia atau yang lain. Jika ternyata kita memang ditakdirkan untuk menikah dengan si dia, alhamdulillah, hal tersebut karena memang Allah telah menentukan demikian. Jika bukan, nanti ada yang Allah siapkan. Kawasan manusia adalah do’a dan ikhtiar. Berusaha melakukan ini dan itu sebagai wujud berserah diri kita pada Allah. Kalau Allah makin suka, Allah Yang Maha Menentukan jodoh bakal milihin jodoh yang terbaik buat hamba-Nya. Allah Maha Penyayang. Namun ukuran terbaik menurut kita, belum tentu baik menurut Allah. Allah Yang Maha Mengetahui. Yang paling penting bukan masalah ketemu jodoh. Ketemu jodoh juga penting sih, ada yang lebih penting lagi. Yakni, apakah ikhtiar yang dilakukan akan dinilai di sisi Allah sebagai amal ibadah atau tidak. Sangat rugi kalau ikhtiar yang kita lakukan untuk menjemput jodoh lalu tidak dihitung sebagai amal ibadah oleh Allah. Karena alasan kita hidup di dunia semata-mata untuk ibadah kepada Allah. Jadi tidak hanya saat menjemput jodoh, saat hidup bersama pun kita menginginkan setiap waktu yang dilalui punya nilai ibadah dan semoga kebersamaan ini berlanjut hingga di kehidupan selanjutnya, di surga kelak. Aamiin

Kalau yakin jodoh Allah yang menentukan, tentu bisa dipahami. Jika ingin jodoh terbaik, kita berbuat yang disukai Allah atau yang nggak disukai Allah? | Waduh, jaman sekarang kalau nggak “mendekati zina”, bisa nggak laku, bar. | Udah yakin jodoh ada dalam kuasa Allah, kenapa khawatir jika menjaga diri karena Allah dan dengan cara2 yang Allah sukai malah nggak dikasih jodoh yang baik sama Allah? Ini kan nggak mungkin. Semakin dekat dan semakin dicintai Allah, Allah bakal milihin pasangan buat hamba kesayangan-Nya. Mudah bagi Allah membolak-balikkan hati. Jangan khawatir. Udah dibahas sebelumya, Allah kan mempertemukan kita dengan jodoh di waktu yang tepat. Lakukan aja yang terbaik dalam pandangan Allah semampunya.

| Bar kok ada juga ya yang suka sama kamu. Padahal wajah kamu, ya begitulah (mungkin mau ngomong jelek tapi nggak tega -_-” ) | Mana saya tau. Kita nggak berkuasa atas hati orang lain. Ada orang lain suka, ada juga yang nggak suka. Tapi kita bukan fokus memikirkan hal tersebut. Yang terpenting bukan takut nggak dicintai orang lain, tapi takutlah nggak dicintai Allah. Selain itu Allah yang urus. Bagi yang mengutamakan cinta manusia dan melupakan Allah, mudah bagi Allah membuat orang lain yang semula mencintai lalu dibalikkan hatinya untuk membenci kita. #JLEB. Dari situ udah bisa ditarik kesimpulan, siapa seharusnya yang utama di hati kita, Allah atau yang lain. | Tapi itu kenapa alim bener, baik tapi masih belum dapet jodoh? | Waktunya aja yang belum. Allah Maha Teliti kapan waktu yang tepat mempertemukan ia dengan jodohnya. Wallahu A’lam

Wanita dinikahi karena empat faktor, yakni karena harta kekayaannya, karena kedudukannya, karena kecantikannya, dan karena agamanya. Hendaknya pilihlah yang beragama agar berkah kedua tanganmu. (HR. Muslim)

Untuk  jodoh, akhlak/ agama adalah paling pokok. Agama di sini bukanlah sekedar yang pandai pengetahuan agamanya, namun yang mendalam pada keimanan/ akhlak. Berapa banyak orang yang dikenal membawa nama agama namun sikap dan perilakunya jauh dari cerminan Islam sebenarnya. Pilih mana nih, orang kaya tapi jauh dari Allah atau orang yang deket sama Allah tapi pas-pasan? Hmm,..jadi bingung. Kalau orang kaya tapi jauh dari Allah, bisa jadi sandaran hidupnya adalah jabatan, uang, atau bosnya. Ia merasa terhormat dan merasa terjamin hidupnya dengan itu semua. Padahal mudah bagi Allah melenyapkan itu semua dalam sekejap. Jadi kalau karirnya hancur, Allah menahan rezekinya, dan jauh dari Allah, lalu siapa yang bisa melapangkan rezekinya? Nggak ada satupun yang bisa menghalangi kehendak Allah. Tapi kalau seseorang yang tawakalnya mantep, sandaran hidupnya adalah Allah, dekat dengan Allah, ada apa-apa, ada Allah yang menolong dan ngasih rezeki dari jalan mana aja yang Dia kehendaki. Allah yang kan mencukupkan keperluan siapa saja yang benar-benar bertawakal pada-Nya (Qs.65:3). Dan cukup itu bukan berarti banyak, tergantung kebutuhan. Namanya juga pas-pasan (pas butuh, ada). Nggak ada yang bisa ngalangin Allah. Seluruh makhluk di dunia baik jin dan manusia berkumpul nggak ada yang bisa ngalangin apa yang menjadi ketetapan Allah. Tapi ini kembali pilihan masing-masing ya. Tidak ada yang salah dengan harta, itu juga malah bagus. Hanya ingin menekankan apa yang disebutkan dalam hadits di atas, Allah -lah yang segala-galanya, bukan yang lain. Ada yang berjodoh sama orang yang deket sama Allah, kaya, dan hatinya zuhud terhadap dunia, ya itu rezeki.

|Zodiak singa : Anda tidak cocok kerja di air (kalaupun cocok, saya kira juga pikir-pikir, susah napas). Anda juga tidak cocok punya pasangan yang bekerja di bidang kesehatan. Anda cocoknya punya pasangan dengan zodiak kepiting atau zodiak ikan atau zodiak rempah-rempah, (terserah mana yang enak).| Tiba-tiba ada dokter cantik, solehah, dan baik. Masih single pula. Sinyal udah positif nih. Awalnya mau nikah, tapi gara-gara bergantung pada zodiak malah nggak jadi. |*sangat disayangkan*|

Jadi nggak perlu berharap dan bergantung pada ramalan jodoh, dukun, atau apa aja, cukup berharap pada Allah Raja dari segala raja, Penguasa langit dan bumi yang mutlak bergantung pada-Nya segala sesuatu.

Cukuplah Allah bagi kami, Allah akan memberikan kepada kami sebahagian dari karunia-Nya dan demikian (pula) Rasul-Nya, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang berharap kepada Allah (QS.9:59)

Kalau kata Allah nggak jodoh, meskipun saling cinta, pacaran lama, menulis janji setia di atas buku strimin misalnya, biar tulisannya indah, tetep nggak jadi. Tapi kalau kata Allah jodoh, pasti jodoh. Segala makhluk nggak ada yang bisa menghalangi ketentuan Allah. Kalau ada yang bilang, “aku kan mencintaimu dan bersamamu selamanya”, temen-temen pada percaya nggak nih? Saran saya jangan percaya, nggak pake Insya Allah lagi. Ia mengatakannya bukan karena memang kenyataannya seperti itu, mungkin ingin memberi tahu bahwa “saat itu”  ia memang mencintaimu hingga saking cintanya ia merasa seolah-olah perasaan itu tak kan hilang, padahal…..dari kalimatnya udah jelas, bagaimana mungkin ia bisa menjamin cintanya akan ada selamanya padahal umur kita nggak bisa jamin dan ia tak kuasa atas hatinya sendiri? Mudah bagi Allah membolak-balikkan hati | Beh, jangan buka rahasia, bar. Nanti saya nggak bisa ngegombal lagi nih | Ah, nggak usah pake gombal-gombal. Kalau memang serius, pasti ngelamar. Gombalnya nanti aja, kemesraan berikan kepada siapa yang Allah takdirkan untuk kita. Moga Allah melindungi kita dari perkataan dan perbuatan yang nggak baik. |

Semuanya ada dalam kuasa Allah. Dengan izin-Nya, manusia hanya bisa berdo’a dan berikhtiar dengan cara yang Allah sukai sebagai amal ibadah. Berusaha menjadi pribadi yang terbaik dalam pandangan Allah. Selebihnya Allah yang urus. Laa haula walaa quwwata illa billaah. Kita memang belum tentu berjodoh dengan orang yang kita pilih, tapi kita pasti berjodoh dengan orang yang sudah Allah pilih.

| Bar, boleh nanya? | Boleh, silahkan | Bisa nulis tentang jodoh sampai panjang gini, kok masih jomblo, bar? |

| #JLEB *_* . Wassalamu’alaikum….. |

Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan supaya kamu mengingat akan kebesaran Allah.(Qs51:49)

Kan banyak cobaan yang dilalui jika hati benar-benar berikrar Laa ilaah ilallah. Karna tidak seperti mendekati pada yang lain, dekat kepada Allah Yang Maha Agung adalah suatu kemuliaan besar.

Jika terjadi penghianatan di saat ini, bersyukurlah karena dikenalkan pada keburukan di saat ini agar bisa belajar. Bukan di saat nanti, di saat dalam posisi yang punya pengaruh besar.

Kebahagiaan di masa yang panjang ditentukan dari kepandaian untuk memilih di waktu yang relatif singkat

Ada yang ditakdirkan untuk memahami takdir, ada yang ditakdirkan tidak memahami takdir, ada juga yang ditakdirkan tidak percaya pada takdir. Takdir itu ada

Cinta bukan kata-kata, namun ketulusan dalam hati. Tak harus dengan kata-kata indah yang berisi kemunafikan, kalimat “sederhana” yang “mengantarkannya” kepada Allah udah bisa bikin nangis kok

Dakwah bukan perkara bicara, tapi apakah sudah diamalkan. Bukan untuk tampil “alim”, namun menginginkan kebahagiaan untuk orang lain. Dakwah penting, tapi berdo’a kepada Allah untuk mereka, jauh lebih penting.

Sakit hati adlah cara Allah menolong hamba-Nya agar hijrah pada yang lebih baik

@Pencinta_Allah:

Ingin Ku Lukis Senyuman di Hati Orang Tuaku

Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.(QS31:14)

Alhamdulillah, Allah masih ngijinin saya untuk nulis lanjutan tulisan sebelumnya, Ingin Ku Lukis Senyuman di Hati orang Tuaku. Moga ada manfaatnya ya.

1) Kita harus tahu dulu siapakah yang berkuasa membuat hati orang tua tersenyum bahagia. | Kita sendiri, bar | Salah | Saudara kita, bar | Salah juga | Sule, bar | Salah | Tukul Arwana, bar | *Ting tong*. Kesempatan untuk menjawab udah habis. Maaf, hanya bercanda :)

Tidak ada yang berkuasa membuat hati orang tua kita, keluarga, teman-teman, pasangan hidup, bahkan kita sendiri jadi bahagia, tentram, nyaman kecuali hanya Allah. Selain-Nya hanya jalan saja untuk sampainya kebahagiaan dari Allah.

Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu.(Qs 112:2)

Kalau Allah udah menetapkan seseorang untuk bahagia, maka tak ada sesuatupun yang bisa membuatnya sedih, kecuali dengan izin Allah. Kalau semuanya bergantung pada Allah, mutlak berada dalam kekuasaan Allah, tentu kita bisa tahu, jika menginginkan kebaikan (entah kebahagiaan, ketentraman, rezeki, dan apapun itu ), tentu jangan bikin Allah murka. Gimana caranya agar Allah ridho pada kita, nggak murka.

Tapi itu ada yang sering berbuat jahat, bar. Ibadah nggak dilaksanain tetep hepi-hepi aja tuh | Tapi “senyum” di hatinya bisa nggak berkah. Bisa saja itu justru membuatnya terlena dan lupa terus kepada Allah dan sering berbuat jahat hingga akhirnya “numpuk” dosanya lalu saat tiba hari pembalasan kelak, jadinya……. “you know what i mean” *bahasanya sok bule*

Yang kita inginkan adalah kebahagiaan orang tua kita yang berkah, yang ada dalam jalan kebaikan. Karena khawatir kita berprestasi, alih-alih bersyukur kepada Allah, bisa jadi justru malah berlebihan dalam membangga-banggakan kita. Bisa jadi orang tua malah berlomba-lomba “pamer” kemampuan anaknya masing-masing ke orang lain. Tentu ini bisa jadi celaka. Kita nggak ingin orang tua kita bahagia hanya di dunia aja, bukan? Kita sangaaat meninginkan sekali bisa berkumpul lagi dengan keluarga di tempat yang paling membahagiakan kelak, yakni di surga. (Semoga terkabul. Aamiin). Di saat memasuki pintu surga dengan disambut para malaikat dengan ucapan salam

surga Adn yang mereka masuk ke dalamnya bersama-sama dengan orang-orang yang saleh dari bapak-bapaknya, istri-istrinya dan anak cucunya, sedang malaikat-malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu;(sambil mengucapkan): “Salamun ‘alaikum bima shabartum”. Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu. (QS 13:23-24)

Senangnya ya kalau bisa kumpul di surga.

2) Berdo’alah untuk orang tua kita, jangan lupakan terutama selesai sholat.

Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil”.(QS 17:24)

Seperti disebutkan sebelumnya, tidak ada yang berkuasa membuat orang tua kita bahagia kecuali dengan izin/kehendak Allah. Jadi, berdo’a kepada Allah adalah salah satu hal yang sangat penting.

3) Jangan Membantah
Selama itu di jalan kebaikan, maka janganlah membantah orang tua. Kalaupun nggak baik, bisa dibicarakan baik-baik dan dicari solusinya bersama-sama.

sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.(QS 17:23)
Keridhaan Allah tergantung kepada keridhaan kedua orang tua dan murka Allah pun terletak pada murka kedua orang tua. (HR. Al Hakim)

4) Tidak ada jumlah kuota untuk menjadi orang yang soleh.
Sering kita terjebak anggapan bahwa membahagiakan orang tua yakni dengan cara orang lain pada umumnya. Misalnya, ingin membanggakan orang tua dengan menjadi dokter yang kuliah di perguruan tinggi favorit. Tentu nggak semuanya bisa jadi dokter, karena kuotanya terbatas. (Tapi ikhtiar wajib ya). Tapi untuk jadi orang soleh, jumlahnya nggak dibatasi. Selalu ada kesempatan selama masih ada umur.

Nggak jadi dokter, masih bisa jadi perawat yang soleh. Nggak jadi direktur, selalu ada kesempatan untuk jadi karyawan yang soleh.

Bukan karena jadi direktur lalu orang tua kita akan jadi bahagia, tapi ketika Allah menjadikan orang tua kita jadi bahagia dan bangga pada anaknya, maka itu yang terjadi tanpa bisa dihalangi oleh siapapun. Jadi direktur, jadi pengusaha, jadi engineer, dll itu hanya jalan saja. Dan cara Allah untuk membahagiakan orang tua kita sangat luas sekali, bahkan seringkali dengan cara yang tidak terduga-duga. Optimislah. Satu pintu kebahagiaan tertutup, masih banyak yang lain. Allah yang berkuasa memberikan kebahagiaan.

Misalnya, saat kita tahajud. Lalu Allah membuat orang tua terbangun, kebelet ke kamar mandi, eh pas lewat dekat musholla, Allah membuat hati orang tua kita tertegun dan terhenyut sambil ngeluarin air mata, “Ya Allah, bersyukurnya aku dikaruniakan anak yang soleh lagi berbakti”. Bisa tuh kayak gitu, padahal simple aja ya.

5) Jadilah penyemangat orang tua.
Dengan menjadi seorang anak soleh yang bertawakkal kepada Allah, tentu dia akan menjadi seorang yang selalu optimis. Seperti poin sebelumnya, sandaran dia hanya Allah. Satu jalan kebahagiaan tertutup, masih ada jalan lain yang bisa Allah beri dari arah yang tidak disangka-sangka. Jadi sifat optimis ini bisa menular ke kedua orang tua kita. Misal orang tua sedang dilanda masalah. Sebagai anak selain membantu apa yang bisa dilakukan, yakni dengan memberi semangat optimisme pada orang tua.

“Nak, mama sedang sakit.”

“Nggak ada hal kecil sekalipun kecuali terjadi atas izin Allah. Jika disikapi dengan sabar, Allah kan menggugurkan dosa-dosa dan akan menaikkan derajat mama.”

“Tapi nak, ini sakit”

“Mama, kesulitan di dunia jauh lebih ringan daripada siksaan di akhirat. Karena Allah sayang pada mama, Allah menggugurkan dosa-dosanya saat ini di dunia lewat sakit ini, dan bisa jadi terselamatkan dari adzab akhirat yang berat. Tenang, ma. Allah selalu memperhatikan kita. Jadikan ini momen untuk mendekatkan diri pada Allah. Ada Allah yang berkuasa menyembuhkan”

“Tapi nak, sebentar lagi ayah pensiun. Sedangkan saudara-saudaramu banyak.”

“Mama, ikan anaknya juga banyak. Tapi tetep calm. Allah lah yang mengurus rezeki para makhluk-Nya. Manusia hanya berikhtiar sebagai amal ibadah. Allah sedang melihat kita saat ini dan selalu memperhatikan kita. Tenang, ma. Ada ayah dan anakmu di sini. Berdzikirlah, ingat-ingatlah dosa-dosa yang kita perbuat kepada Allah dan ingat-ingat apa aja yang Allah karuniakan pada kita. Jika kesulitan menimpa, ini memang episodenya demikian yang harus dijalani. Bersabar, Allah nggak bakal menyia-nyiakan pahala orang yang bersabar. Allah sedang memperhatikan kita saat ini”.

Ya, itu hanya contoh aja. Coba tuh, mantep banget kalau sandarannya Allah Yang Maha Kuat, Insya Allah hidupnya dikuatkan oleh Allah. Sikap optimisme anak bisa menular dan orang tua pun bisa jadi semangat dan tersenyum meskipun dalam keadaan sulit, ataupun sebaliknya. Dalam keluarga bisa saling menguatkan. Insya Allah.

Kesimpulan,
Jadi untuk membahagiakan dan membanggakan orang tua, kita harus beribadah sebaik mungkin pada Allah ya, bar? | Sebenarnya kita beribadah kepada Allah bukan karena orang tua, tapi sebaliknya, karena ketundukan kita pada Allah, maka kita ingin orang tua kita bahagia (sebagai amal ibadah). Lewat tulisan ini pun ingin menunjukkan bahwa jika tujuannya, sandaran hidup, alasan dibalik kita berbuat baik adalah hanya Allah, maka tak perlu lagi khawatir pada yang lain. Lakukan saja apa yang Allah suka. Allah nyuruh kita berbuat baik pada orang tua, ya lakukan. Allah nyuruh kita mendo’akan orang tua, ya lakukan. Allah suka pada anak yang menyayangi orang tuanya. Jika kita benar-benar mencintai Allah dan Allah ridho pada kita, itu timbal baliknya Allah berkuasa menanamkan kasih sayang pada kita untuk mencintai orang tua. So, cinta kita pada orang tua ternaungi dalam rahmat Allah. Fokuslah pada Allah. Dan biar yang lain Allah yang urus. Hati orang tua dalam genggaman Allah. Allah yang berkuasa membahagiakan mereka.
Bagaimana jika (maaf) orang tua kita ada yang mendahului kita? | Justru, kalau kita jadi anak yang soleh, bisa jadi ini menjadi penyelamat orang tua kita kelak. Karena do’a anak soleh adalah amal jariyah yang tidak putus pahalanya meskipun orang tua telah meninggalkan dunia ini. Dan semoga kita semua bahagia di dunia dan di akhirat kelak. Aamiin.

Rasulullah Saw ditanya tentang peranan kedua orang tua. Beliau lalu menjawab, “Mereka adalah (yang menyebabkan) surgamu atau nerakamu.” (HR. Ibnu Majah)

Bro, dia kan menggunjing dan memfitnah kamu, kenapa nggak kamu kasih pelajaran aja?

Tiap perbuatan benar2 dilihat oleh Allah, tak ada satupun yang luput dari pandangan Allah. Perbuatan sekecil apapun pasti dibalas oleh Allah. Rugi dong kalau saya ikut2 berbuat buruk. Mending dimaafkan,dido’akan. Perbuatan baik ini disaksikan oleh Allah dan kebaikannya pun akan dibalas oleh Allah dngan yang jauh lebih baik, Insya Allah. Fokus melakukan yang terbaik dalam pandangan Allah, selebihnya biar Allah yang urus.

Hidup Simple

Dalam kelas dilaksanakan ujian matematika. Semua siswa bersiap untuk mengerjakan. Namun di depan (papan tulis) tertulis petunjuk bahwa dari 25 soal, cukup kerjakan nomor terakhir saja (nomor 25).

Saat di mulai, banyak siswa yang tidak memerhatikan petunjuk di papan tulis. Soal nomor 1 sampai nomor 10 adalah soal tentang integral. Nomor 11 sampai 20 adalah soal tentang trigonometri. Nomor 21 sampai 25 hanya soal penjumlahan biasa. So, mereka yang tidak memerhatikan petunjuk, mengalami banyak kesulitan. Dahinya mengkerut dan mumet bener. Mereka yang tidak memerhatikan petunjuk, dengan waktu yang terbatas paling banyak hanya bisa mengerjakan 9 soal (tidak sampai nomor 25). Akhirnya jawaban harus dikumpulkan. Ada yang mengerjakan hingga 4 halaman, ada yang mengerjakan 3 halaman, dan sebagainya. Saat dikoreksi, tentu saja nilainya nol meskipun jawabannya berlembar-lembar. Karena yang harus dikerjakan adalah nomor 25.

Namun ada beberapa siswa yang memerhatikan petunjuk. Mereka hanya mengerjakan soal nomor 25 saja. Hanya penjumlahan biasa, 1+2+3+4 =…. cukup dijawab 10. Dapet nilai 100. Kok enak? Ya, karena mereka memperhatikan petunjuknya dan mematuhinya. Bukan nggak ada masalah, namun tenaga pikiran mereka hanya difokuskan pada perintah, selainnya sudahlah tak usah dipikirkan dan tak usah dikerjakan, biar nggak nambah mumet dan masalah, agar tidak sia-sia karena waktu mengerjakan soalnya pun dibatasi.

Saat ini kita sedang masuk ke ruang ujian yang bernama dunia. Kita harus mengikuti petunjuknya, apa saja yang harus dikerjakan di dunia ini. Waktu di dunia terbatas, setiap orang pasti kan merasakan kematian dan itu tak kan lama lagi. Agar hidup lebih simple,efektif, dan bernilai, pergunakan energi, waktu, fikiran, dsb sesuai apa yang diperintahkan oleh Allah semampunya. Hidup kan jauh lebih tenang, tentram, dan nyaman.

 

Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.(QS 51:56)

 

Tidak ada perintah lain, alasan kenapa kita dilahirkan ke dunia oleh Allah lewat orang tua kita, agar apa saja yang kita lakukan di dunia semata-mata memang hal yang bersifat ibadah hanya pada Allah. Hidup adalah melakukan sesuatu yang bernilai. Melakukan perbuatan besar, mendermakan uangnya yang banyak, dll namun nggak dilakukan dalam keadaan beriman, tetap nggak bernilai. Rugi tenaga, rugi waktu, fikiran, malah tak diperdulikan oleh Allah, dan bisa jadi dosa. Namun, meskipun hanya menyingkirkan batu di tengah jalan agar Allah meridhoinya, Insya Allah udah bernilai (berpahala). Udah simple, mudah, bernilai lagi. Dan pasti dibalas kebaikannya oleh Allah dengan balasan yang berlipat, hidup pun sakinah di dunia dan akhirat, Insya Allah.

Jika ada orang menceritakan keburukan orang lain dihadapanmu, suatu saat ia bisa menceritakan keburukanmu di hadapan orang lain.
Jika ada orang berbohong tentang orang lain kepadamu, suatu saat ia bisa berbohong tentangmu pada orang lain.
Jika ada orang menghianati orang lain untukmu, suatu saat ia bisa menghianatimu untuk orang lain.
Jika ada orang berbuat nggak baik pada orang lain untuk mencari perhatianmu, suatu saat ia bisa berbuat nggak baik padamu untuk mencari perhatian orang lain.
Maka, jangan merasa di-spesial-kan jika bertemu orang yang seperti ini, bijaknya kita justru lebih hati-hati

Amazing Love (Inst.) – Ost Full House

Kemenangan bagi Seorang Mukmin

Bebearapa mahasiswa sedang berada di ruang ujian. Sedang apa? Tentu bukan lagi nonton bola, tapi akan mengikuti ujian. Kemudian datanglah pengawas mendatangi ruangan dan membagikan soal ujian. Soal terbagi menjadi 2 tipe, tipe A dan tipe B.

Seseorang yang mendapat soal tipe A lalu membuka soalnya, dan alangkah senangnya ia karena tipe soal yang ia peroleh adalah tipe soal yang mudah.
“Hehehe…. mudah sekali ini soal. Nomer 1,…ah bisa. Nomer 2….ah bisa. Hehehe… ternyata gampang nih soalnya. Cek nomer berikutnya, ah gampang. Hahaha…”, karena saking senengnya dapet soal yang sangat mudah, ia merasa sudah di atas angin. Dari saking senengnya sampe lupa kalau soal itu harus dijawab, bukan untuk bahan tertawaan.(Ini cerita rada-rada didramatisir memang ya, cuma buat analogi aja).

Seseorang mendapat tipe soal tipe B. Setelah dibuka ternyata soalnya sulit. Tapi justru dengan itu ia berpikir keras untuk menjawab soal tersebut dengan benar.

Setelah waktu habis, mahasiswa yang mendapat tipe soal A (soal mudah), barulah ia tersadar. Dan tidal ada waktu lagi. Soal harus dikumpulkan. Setelah dikoreksi, mahasiswa yang mendapat tipe soal A mendapat nilai 0 (nol). Dan mahasiswa yang mendapat tipe soal B, dapet nilai 70 (lumayan, meskipun bukan 100 yang penting bernilai dan lulus).

 

So, bukan masalah dapat soal ujian yang mudah dan sulit. Mendapat ujian yang mudah, bukan keberhasilan. Mendapat ujian kesulitan, bukan kegagalan. Keberhasilan, apakah ujian tersebut dijawab dengan sebaik mungkin.

Menjadi kaya, populer, jadi petinggi besar, dsb bukanlah keberhasilan. Menjadi orang yang kurang dari hal tersebut, bukanlah kegagalan. Tujuannya adalah menyikapi dari apa yang Allah beri dengan sebaik mungkin menurut cara Allah. Dan semoga Allah ridho dengan cara kita menyikapi apa saja yang Allah beri.

 

Aku mengagumi seorang mukmin. Bila memperoleh kebaikan dia memuji Allah dan bersyukur. Bila ditimpa musibah dia memuji Allah dan bersabar. Seorang mukmin diberi pahala dalam segala hal walaupun dalam sesuap makanan yang diangkatnya ke mulut isterinya. (HR. Ahmad dan Abu Dawud)

 

Seorang mukmin diberi pahala dalam segala hal ….. ini yang ingin kita capai, pahala, ridho, rahmat Allah.

Dan KEMENANGAN (keberhasilan) ini baru bisa kita lihat saat kita meninggal nanti, saat “jawaban soal ujian kita selama hidup di dunia telah dikoreksi”.

Inilah alasan kita hidup. Tujuan utamanya bukan untuk mendapat soal mudah, tapi mengerjakan soal sebaik mungkin dari yang Allah beri. Namun kita jangan menantang ujian, kita tetap harus berdo’a agar terhindar dari cobaan dunia. Dan selebihnya adalah urusan Allah apa yang akan Allah beri kepada kita. Saat mengerjakan nomer 1 sampai 10 mudah, lalu soal nomer beriktunya 11 sampai 21 sulit, dan seterusnya. Hidup ada kalanya mudah, ada kalanya sulit. Itu hanya episode “soal ujian” yang harus dikerjakan, bukan keberhasilan dan kegagalan.

 

Hai orang-orang yang beriman, rukuklah kamu, sujudlah kamu, sembahlah Tuhanmu dan perbuatlah kebajikan, supaya kamu mendapat KEMENANGAN. (Al-Hajj:77)

Kota Kebahagiaan

Rudi sedang sibuk mencuci mobilnya. Mobil mewah yang diproduksi dengan jumlah unit terbatas oleh pabrikan. Hanya orang yang benar-benar kaya raya yang dapat membelinya. Ia bangga dengan mobilnya. Lalu Heru lewat dengan naik sepeda motor bebek dan menyapa Rudi. Rudi malah bersikap bangga dengan mobil yang dimilikinya,

“Lihat nih mobilku. Hanya orang-orang tertentu yang bisa memilikinya”, ucapnya bangga.

Heru hanya tersenyum saja dan berpamitan pergi. Heru hendak pergi ke suatu kota, yakni Kota Kebahagiaan. Kota yang akan membuat bahagia bagi siapa saja yang mengunjunginya. Meskipun pergi dengan motor bebek, ia menikmati perjalanan tersebut. Sedangkan Rudi masih tetap sibuk merawat mobilnya. Melihat mobilnya dengan kagum dan bangga. Pikirannya telah teralihkan pada mobilnya. Mobilnya hanya jadi pajangan, tidak ia gunakan pergi ke manapun, apalagi ke kota Kebahagiaan.

Punya mobil mewah tapi malah tidak digunakan untuk sampai ke Kota Kebahagiaan, tetap nggak bahagia, hanya kesenangan semu pada kebanggaan. Kaya, punya karir bagus, kuliah di perguruan tinggi favorit, dapat gelar sampai s3, jabatan tinggi, dsb semua hal tersebut hanya sebatas ALAT, bukan pemberi kebahagiaan dan bukan parameter kesuksesan. Jangan berharap bahagia pada itu semua, nggak bakal kesampaian. Berharap pada Allah saja, kan Allah kabulkan, Insya Allah.

Orang yang bahagia adalah mereka yang menggunakan ALAT yang telah dianugerahkan oleh Allah padanya (mau mewah ataupun sederhana) untuk pendekatan pada Allah (beribadah/beramal). Allah akan menanamkan ke dalam hatinya kebahagiaan, ketentraman, kepuasan hati, seperti hati yang haus kering lalu diisi oleh air yang sejuk dingin, merasuk ke dalam sela-sela rongga dalam qalbu. Tak hanya di dunia, kelak di akhirat ada balasan yang jauuhh lebih membahagiakan lagi.

Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi… (Al-Qashash:77)

Dan kelak Tuhanmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu, lalu (hati) kamu menjadi puas .(Adh-Dhuhaa:5)

Seorang pun tidak mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka yaitu (bermacam-macam nikmat) yang menyedapkan pandangan mata sebagai balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan. (As-Sajdah:17)

Karena kebahagiaan bukan pada benda (duniawi) tapi ia dirasakan dalam hati. Dan tidak ada yang berkuasa atas semua itu, kecuali hanya Allah saja.