Buat Apa Kuliah?

Sempat bertanya-tanya, buat apa kuliah? Apa yang dicari di kampus?

Sebenarnya ini udah beberapa tahun yang lalu tapi sampai sekarang masih inget karena ucapan seorang dosen ini menurutku dalem, di sini kamu belajar bagaimana caranya belajar. Dulu sempat bertanya-tanya buat apa sih pontang panting ke sana kemari ngejar nilai. Buat apa belajar ini dan itu padahal nggak semua materi kuliah kelak bakal dipake. Bukankah dengan demikian malah jadi nggak efisien? Sebenarnya ini masalah tiap personal karena setiap orang punya latar belakang dan tujuan yang berbeda. Karena beliau berpesan secara personal, jadi mungkin pesan ini bisa berbeda dengan tujuan orang lain.

Nilai tinggi dan prestasi nggak ada jaminan buat jadi orang sukses karena menurut beliau dari data-data statistik yang ada, orang yang dulunya biasa aja di sekolahnya malah seringkali lebih sukses dibandingkan dengan orang-orang yang berprestasi saat sekolah atau kuliah dulu. Saya pun bertanya-tanya, kalau begitu buat apa saya sekolah atau kuliah?

Di sini kamu belajar bagaimana caranya belajar kalimat tersebut sepintas terucap dari beliau dan membuat saya jadi lebih mikir.

Misalnya ketika ada persoalan dari suatu mata kuliah. Sebenarnya yang dipelajari bukan sekedar materinya. Materi kuliah itu juga penting, namun yang juga penting adalah belajar bagaimana cara mempelajari materi tersebut. Ketika dihadapkan pada banyak persoalan di kampus dan kehidupan yang lain, mau nggak mau harus menemukan solusi dari berbagai persoalan tersebut dan tidak jarang dengan waktu yang terbatas. Dengan terbiasa menjalani hal-hal demikian, maka mahasiswa tersebut akan menjadi problem solver. Dan ini sebenarnya yang sebenarnya dicari.

Ketika dihadapkan pada berbagai tugas dan berbagai kegiatan, mau nggak mau mahasiswa harus mengatur waktu yang dimilikinya. Ia harus memprioritaskan mana yang harus dikerjakan terlebih dahulu, alokasi waktu yang diperlukan, dan menyediakan hal-hal yang dibutuhkan untuk menyelesaikan tugas tersebut. Dengan terbiasa menjalani hal tersebut, ia punya kemampuan dalam me-manage tasks yang diberikan.

Saat sekolah dulu (SD, SMP, SMA), materi yang dipelajari cenderung “disuapin”. Para siswa dituntut patuh pada aturan, nurut pada sistem yang ada, dituntut untuk belajar sesuai kurikulum dan pelajaran yang diberikan masih umum dan terbatas. Namun saat di kampus, banyak hal yang bisa dipelajari baik dari materi kuliah ataupun diluar mata kuliah. Di sini ia menjadi lebih bebas. Sebenarnya mengasah kemampuan non akademik juga bisa dilakukan saat sekolah dulu, namun hal tersebut masih terbatas. Di kampus mahasiswa diberi kebebasan yang lebih namun bertanggung jawab dan silahkan cari ilmu-ilmu yang dibutuhkan selain tentunya harus mengikuti aturan dan kurikulum yang ada.

Banyak hal-hal baru bisa dipelajari saat jadi mahasiswa bahkan tentang kehidupan di luar kampus. Dengan terbiasa mempelajari banyak hal-hal baru, hal tersebut akan membuat ia menjadi seseorang yang gila belajar. Dan sifat ini yang sebenarnya lebih diperlukan. Kalau sekedar pandai fisika, matematika, ilmu sosial, hal tersebut bisa saja bermanfaat saat sekolah. Namun setelah lulus, belum tentu itu dipake saat bekerja nanti kecuali kalau mau jadi peneliti, dosen, atau yang lainnya. Pada umumnya banyak hal-hal baru kelak yang harus dipelajari. Namun jika “gila belajar” menjadi sifatnya, bukan sekedar pandai saat sekolah, ia sangat berpeluang untuk menjadi pandai dalam hal-hal baru kelak. Bukan sekedar dari “buku”, namun juga kehidupan. Dalam keseharian kita biasa mengenalnya dengan nama kecerdasan. Kenapa ada orang yang bisa mempelajari hal-hal baru dan bisa menguasai banyak bidang dengan waktu yang relatif lebih singkat. Sebenarnya saya lebih suka menyebutnya dengan gila belajar atau pandai dalam bagaimana caranya belajar dan itulah yang dimaksud oleh dosen saya tersebut, belajar bagaimana caranya belajar agar pandai dalam bagaimana caranya belajar. Dan kesalahan-kesalahan yang dilakukan saat sekolah atau kuliah, yang terpenting tahu di mana letak kesalahannya lalu perbaiki dan jangan dilakukan lagi terutama saat di dunia kerja kelak, begitulah pesan beliau.

Banyak juga hal-hal lain yang bisa diperoleh saat menjadi mahasiswa. Bukan sekedar mengejar sesuatu yang tampak (nilai, prestasi, populer, dsb), tetapi lebih kepada yang tidak nampak namun sebenarnya sangat penting untuk didapat. Tapi kembali lagi hal ini bergantung kepada tujuan mahasiswa itu sendiri. Misalnya jika ingin menjadi seorang dosen atau peneliti, pasti dia punya prioritas yang berbeda dengan orang yang ingin menjadi pekerja yang ahli. Bagi yang ingin menjadi entepreneur tentu punya prioritas yang berbeda pula.

Tetapi saya mikir lagi, kalau menjadi orang yang gila belajar, orang yang mampu me-manage banyak hal, menjadi seorang problem solver, orang yang pantang menyerah, mampu berkomunikasi dan bekerja sama dengan baik, dan sebagainya, lalu apa tujuan mendapatkan itu semua? Biar jadi orang sukses? Lalu saya pun bertanya-tanya lagi kepada diri sendiri, apa itu sukses? Banyak uang? Diakui orang lain sebagai orang hebat? Mendapat banyak piagam penghargaan dan piala? Bisa belajar di perguruan tinggi favorit? di luar negeri? Atau bekerja di perusahaan multi nasional? Tetap aja hati nggak ada kepuasan dengan jawaban itu semua, masih terasa ada yang kurang.

Sebenarnya sifat manusia bukan tidak pernah puas, hanya saja belum memasukkan “penawar” yang tepat ke dalam hatinya. Misalnya orang yang sedang haus lalu meminum air laut, pasti tetap haus. Bukan karena haus tidak bisa dihilangkan, hanya saja salah memasukkan cairan ke dalam tubuhnya. Haus bisa dihilangkan jika telah meminum cairan yang tepat. Begitulah hati yang tidak akan merasakan kepuasan yang sebenarnya jika yang dikejar hanya sekedar pengakuan, prestasi, penghargaan, dan hal-hal duniawi lainnya.

Sempat berbulan-bulan bahkan setahun lebih menjalani hidup seperti orang yang kebingungan. Namun lama kelamaan menyadari dan tidak ragu sama sekali, hati baru akan merasakan kepuasan yang sebenarnya ketika orang tersebut mengenal dan mencintai tuhannya, tahu ke mana arah tujuan hidupnya, beribadah termasuk juga berikhtiar dengan tulus karena Rabbnya. Ini seperti orang yang kehausan lalu meminum air yang tepat, maka barulah ia tidak haus lagi. Seperti rongga-rongga yang kering di dalam hati lalu dialiri dan dipenuhi dengan aliran air yang sejuk, pastilah hati akan puas dan nyaman.

Lalu apa hubungannya dengan hal-hal yang dibicarakan tadi seperti menjadi orang yang gila belajar, problem solver, orang yang pantang menyerah, dsb?

Hal-hal tersebut bukan tujuan namun diantara jalan bagaimana agar seseorang mencapai tujuan hidup yang sebenarnya. Senantiasa memperbaiki dan meningkatkan kualitas diri adalah karena ingin menjadi pribadi yang terbaik dalam pandangan-Nya. Bukan karena ingin disebut orang alim, bukan karena ingin disebut orang hebat, orang sukses, atau bukan pula karena ingin bersaing hanya dalam hal-hal duniawi. Allah lah yang menjadi tujuan. Kita semua sama-sama manusia ciptaan tuhan. Tidak ada yang hebat kecuali Allah. Manusia bisa berbuat ini dan itu semata-mata karena Allah yang memberikan kemampuan. Dan setiap manusia diberi kemampuan dan keunikannya masing-masing dan diuji apa yang akan manusia lakukan dengan anugerah yang Allah beri tersebut. Setiap orang mempunyai kesempatan yang sama untuk menuju kepada-Nya, untuk menjadi pribadi yang dicintai-Nya. Allah tidak memandang seseorang dari kedudukan/ jabatannya, harta kekayaan, ketampanan/ kecantikannya, tetapi memandang dari hatinya. Jika hati orang tersebut soleh atau solehah, Allah menyukainya. Manusia yang paling dicintai Allah adalah yang paling taat dalam ibadah.

Dan janganlah khawatir dengan masalah takdir atau nasib hidup di masa depan. Karena jika fokus mengubah apa-apa yang ada pada diri menjadi lebih baik, maka Allah yang akan menjamin mengubah nasib menjadi lebih baik sebagaimana makna yang terkandung dalam surat Ar-Ra’d ayat 11. Meningkatkan kualitas diri dan melakukan yang terbaik adalah ibadah, sedangkan takdir adalah urusan Allah.

“Dalam hati manusia ada kebutuhan yang tidak dapat dipenuhi kecuali harus mencintai dan kembali kepada Allah, selalu mengingat-Nya dan benar-benar ikhlas.
Seandainya dunia dan seluruh isinya diberikan maka kebutuhan tersebut tidak akan terpenuhi” (Ibnu Qayyim Al-Jauziyah)

“Dari Anas r.a. dari Nabi s.a.w., sabdanya: “Ada tiga perkara, barangsiapa yang tiga perkara itu ada di dalam diri seorang, maka orang itu dapat merasakan manisnya keimanan yaitu:

  • jikalau Allah dan Rasul-Nya lebih dicintai olehnya daripada yang selain keduanya,
  • jikalau seorang itu mencintai orang lain dan tidak ada sebab kecintaannya itu melainkan karena Allah,
  • dan jikalau seorang itu membenci untuk kembali kepada kekafiran setelah diselamatkan oleh Allah dari kekafiran itu, sebagaimana bencinya kalau dilemparkan ke dalam api neraka.” (Muttafaq ‘alaih)

“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah”, kemudian mereka tetap istiqamah maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tiada (pula) bersedih hati. “(Qs 46:13)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s