Mengenal Allah

Belajar ilmu yang berkaitan tentang agama, terutama tentang keimanan, tidak cukup hanya dengan mendengarkan ucapan gurunya, sekedar membaca tulisan, ataupun semacamnya. Hanya Allah lah yang bisa membuat hamba-Nya kenal kepada-Nya. Sedangkan guru, tulisan, buku, dsb hanyalah diantara jalannya.

Selain belajar, diantaranya ada proses “bersusah payah”. Ini adalah diantara proses untuk membuka atau mempertajam “pandangan hati”. Itu kenapa harus bersusah payah dalam mengamalkan amalan-amalan sunnah, seperti sholat sunnah, dzikir, ngafalin Al-Quran, sedekah, dsb. Jalannya banyak, tidak harus semua. Juga bersusah payah dalam hal lain. Misalnya meninggalkan hal-hal yang disukai dalam kategori keinginan duniawi.

Tetapi ada juga orang yang nggak ada niat ingin deket dengan Allah, tetapi Allah menghendaki ia untuk mempunyai hati yang cinta kepada-Nya. Allah beri ia jalan takdir yang nggak biasa. Biasanya takdir-takdir yang nggak enak, sampai-sampai ia udah nggak mampu berbuat apa-apa dan meyakini hanya Allah yang memiliki segala kekuasaan dan prosesnya biasanya nggak sebentar. Lama kelamaan pandangan hatinya mulai terbuka, dan ketika membaca Al-Quran dan mentadabburinya, dan ketika mengkaji sabda-sabda Rasulullah SAW, (dengan bimbingan gurunya), maka masuklah dengan izin Allah cahaya ilmu ke dalam hatinya, pandangan hatinya jadi semakin tajam. Ilmu bukan sekedar diterima oleh kecerdasan akalnya, namun cahaya ilmunya pun masuk ke dalam hatinya.

Ketika mata hatinya sudah terbuka, maka cahaya Allah (petunjuk, hidayah, yakni firman-firman Allah), menjadi mudah masuk ke dalam hatinya. Ilmu bukan sekedar dianalisa dengan fikiran, bukan sekedar menggunakan otak, namun juga dengan hati. Itulah kenapa ada orang yang membaca hanya beberapa ayat saja dalam Al-Qur’an, udah membuat hatinya ketar-ketir, bisa banyak mengeluarkan air mata. Mendengar kata “ALLAH”, hatinya langsung terasa beda. Itu pun kenapa banyak hikmah yang bisa kita dapat darinya (yang sesuai syariat islam). Akan beda sekali orang yang belajar agama tanpa ada proses “susah payah” dibandingkan dengan orang yang terbuka “mata hati”nya.

Jika memang ingin dekat kepada Allah, mulailah kikis apa-apa yang sering diutamakan dalam hati kita. Kalau tidak, nanti Allah tolong, dan rasanya biasanya nggak enak. Misalnya punya pacar, apalagi lebih mengutamakan pacarnya daripada Allah, nanti Allah bakal takdirkan putus entah lewat cara apa aja. Yang mengutamakan urusan dunianya daripada Allah, nanti Allah bakal bikin urusan itu nggak beres, tiba-tiba buntu aja. Yang menganggap dirinya mampu berbuat mengusai takdir dengan ucapan-ucapan yang menurutku nggak pantes semisal “kesuksesan ada di tangan kita”, besar kemungkinan oleh Allah malah dibikin gagal. Yang terlalu sibuk mikirin materi, besar kemungkinan malah “dihalangi” buat dapet. Dan lain sebagainya.

Dan berbaik sangkalah, Allah melakukan itu semua bukan untuk mencelakakan. Justru karena Allah cinta, menghendaki kebaikan kepadanya, Allah cemburu, maka Allah “ambil” apa-apa yang diutamakan di hatinya. Sehingga tiada lagi yang tertanam di hati orang tersebut, tiada lagi yang utama baginya selain ALLAH. Sehingga ia benar-benar menghamba kepada-Nya, Laa ilaaha illallah, tiada ilah kecuali hanya ALLAH. Allah cinta kepada orang tersebut sehingga Allah menghendaki ia kembali berpaling kepada-Nya.

Besarnya pahala sesuai dengan besarnya ujian dan cobaan. Sesungguhnya Allah ‘Azza wajalla bila mencintai suatu kaum Allah menguji mereka. Barangsiapa bersabar maka baginya manfaat kesabarannya dan barangsiapa murka maka baginya murka Allah. (HR. Tirmidzi)

Seorang hamba memiliki suatu derajat di surga. Ketika dia tidak dapat mencapainya dengan amal-amal kebaikannya maka Allah menguji dan mencobanya agar dia mencapai derajat itu. (HR. Ath-Thabrani)

Dan jika sudah Allah yang utama baginya, maka ia pasti menjadi sadar apakah arti kebahagiaan yang sebenarnya. Ia pasti menjadi sadar manakah kebahagiaan semu dan manakah kebahagiaan yang sebenarnya. Orang yang telah merasakan manisnya dekat dengan Allah, akan merasakan pahitnya ketika jauh dari-Nya.

Oleh karenanya biasanya ia nggak banyak minta duniawi. Hal-hal duniawi bukan lagi hal yang menarik baginya. Dunia hanya dijadikan kendaraan baginya, bukan tujuan. Ia udah nggak peduli, mau hidup mudah, sulit, sedih, bahagia, yang penting ia ingin Allah selalu bersama dalam hidupnya (padahal Allah memang selalu ada). Kalaupun minta, ya minta ingin ilmu yang bermanfaat, mendo’akan orang tua dan orang lain, ingin jadi hamba yang takwa, orang bermanfaat, ahli syukur, kemampuan beribadah, dan lain sebagainya. Ia minta hal-hal yang membuat Allah ridha kepadanya. Dan sebenarnya ia pun berdo’a hanya karena tahu bahwa Allah suka kepada orang yang banyak berdo’a kepada-Nya.

Parameter kedudukan seseorang Allah terlihat dari,

  • Siapa yang utama baginya, siapa yang paling sering ia sebut di hatinya, apa yang sering direnunginya, siapa yang menjadi “tuhannya”, Allah atau malah yang lain
  • Apakah sikap, ucapan, dan perbuatannya sesuai dengan apa yang dibawa oleh Rasulullah SAW
  • Apakah kehadiran Allah bisa ia rasakan, apakah terasa baginya bahwa Allah senantiasa selalu bersamanya, sangat dekat dan jelas, sehingga ia sudah nggak khawatir lagi ngejalani hidup (jangan diartikan dzat Allah ikut orang tersebut kemana-mana, jangan pula diartikan bahwa dzat Allah ada dimana-mana termasuk dalam dirinya.)

Tapi ini bukan untuk menilai orang lain, ini untuk diri sendiri.

Hidup terus jalan, saya pun masih belajar. Bila ingin deket dengan Allah, selain meraih ilmu, mungkin kelak akan ada hal-hal kejadian yang agak tidak biasa, kejadian-kejadian yang banyak mengandung hikmah, maka jalani dengan banyak memohon kepada Allah dengan berpedoman apa yang dibawa Rasulullah SAW. Ibaratnya, belajar sambil praktek. Akan banyak ujian-ujian hidup, tidak sekedar ujian kesusahan namun juga ujian kesenangan yang keduanya bisa hadir hampir beriringan ataupun bergantian. Dan keduanya merupakan kebahagiaan bagi orang yang mampu “membaca” hikmah kejadian tersebut. Intinya semua apa yang Allah beri adalah kebaikan, suka atau tidak suka menurut kita.

Kita tidak tahu bagaimana kedudukan seseorang di sisi Allah. Bisa jadi saya nulis beginian, padahal yang membaca ini jauh lebih tinggi kedudukannya di sisi Allah. Materi, kesenangan hidup, kelebihan, dsb, bukanlah parameter siapa yang paling tinggi kedudukannya di sisi Allah dan memang bukan urusan kita menilai orang lain. Tidak perlu difikirkan bagaimana pandangan orang lain tentang kedudukan kita di sisi Allah, dikenal orang alim atau tidak ataupun hal-hal semacamnya. Fokuskan kepada Allah.

Berbeda dengan hal duniawi, untuk mendekati Allah tidak ada sistem kompetisi. Justru orang yang merasakan kebahagiaan deket dengan Allah, sangat ingin agar lebih banyak lagi orang yang benar-benar merasakan kebahagiaan hidup, bukan lagi kesenangan semu.

Hadis riwayat Anas ra., ia berkata:

Nabi saw. bersabda: Ada tiga hal yang barang siapa mengamalkannya, maka ia dapat menemukan manisnya iman, yaitu orang yang lebih mencintai Allah dan Rasul-Nya daripada yang lain, mencintai orang lain hanya karena Allah, tidak suka kembali ke dalam kekufuran (setelah Allah menyelamatkannya) sebagaimana ia tidak suka dilemparkan ke dalam neraka. (Shahih Muslim No.60) 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s