Menghadapi Orang yang Menjengkelkan

Sebenarnya judulnya rada kurang enak dibaca, terkesan “negative”. Tapi saya tulis karena kalimat tersebut yang banyak dicari dalam pencarian google. Kalimat tersebut merupakan hal-hal wajar yang dialami kebanyakan orang dalam kehidupannya sehari-hari. Bertemu dengan orang yang menganggu kehidupan kita bukanlah sesuatu yang kebetulan karena segala apa yang terjadi, sekecil apapun, mutlak terjadi dengan izin Allah. Tidak akan terjadi sesuatu apapun sebelum Allah mengizinkan itu terjadi.

Sebenarnya permasalahannya bukan dari orang yang menjengkelkan tersebut namun bagaimana kita menyikapinya. Kalau kita menyikapinya dengan cara yang nggak baik, kita yang rugi. Namun jika menyikapinya dengan baik, sebenarnya itu adalah ladang meraih kebaikan buat kita. Allah memberi pahala tiada batas bagi orang yang sabar. Allah pun jika hendak meningkatkan derajat seseorang, maka diberikanlah sesuatu hal ataupun kejadian yang tidak disukainya jika orang tersebut ridha dan tepat menyikapinya.

Cara yang paling tepat menyikapi orang yang berbuat buruk dan menjengkelkan adalah memaafkannya. Karena memaafkan sebenarnya adalah untuk kebaikan diri sendiri. Jika kita memaafkan, toh yang lapang adalah hati kita sendiri. Allah mencintai orang pemaaf. Maka cinta Allah itulah yang ingin kita raih. Dan kita jangan terlalu repot mengurus orang yang menjengkelkan tersebut karena orang tersebut selalu berada dalam pengawasan Allah. Biarlah itu dalam urusan Allah.

Namun memaafkan ini tidak langsung selesai, harus juga dilihat bagaimana kondisinya. Misal, ada orang yang berbuat buruk dan menjengkelkan, maka maafkanlah dan ingatkan. Jika berbuat buruk lagi, maafkanlah dan bimbing dia. Jika berbuat buruk lagi, maafkanlah lagi namun… kali ini harus ada konsekuensi yang harus dilakukan. Hal ini dilakukan hanya sebagai kewajiban aja, melakukan apa yang seharusnya kita lakukan.

Maaf kalau contohnya ambil contoh pribadi. Dulu Allah pernah menakdirkan saya bertemu dengan orang yang menjadi jalan ujian buat saya sendiri. Awal-awal, biasa aja dibiarkan. Lalu karena berulang-ulang terus dilakukan, dan sudah nggak bisa dinasehati, akhlak orang ini sudah “terbaca” dan tentunya ini menganggu dan menjadi penghambat untuk melakukan kegiatan sehari-hari. Maka yang dilakukan adalah memaafkannya, karena ini juga untuk kebaikan diri saya sendiri, hati jadi lebih tenang dan lapang. Namun tidak berhenti di sini aja, suruh orang tersebut untuk tidak bertemu/ berkomunikasi lagi agar tidak mengganggu lagi. Akun media sosialnya terpaksa diblokir karena wanita ini sudah tidak bisa menjaga etika seperti batasan-batasan berucap kepada lawan jenis, non-mahrom. Syetan memang selalu menggoda manusia dan ternyata diantaranya lewat wanita tersebut. Dan nomer handphonenya juga terpaksa diblokir karena sering melakukan “spam” lewat sms. Meskipun bisa delivered lewat operator seluler, namun tidak bisa masuk dan terbaca di inbox handphone. Done. Sejak saat itu dia tidak bisa menganggu lagi dengan izin Allah.

Pesannya, jika ada seseorang yang menjadi “penganggu”, berusahalah untuk membimbingnya terlebih dahulu. Toh kita yang dapet pahalanya. Namun kalau nggak ada tanda orang tersebut untuk berubah, yang bisa dilakukan adalah bagaimana agar akibat perbuatan buruknya untuk nggak kena ke yang lain. Namun, bersikap juga dengan bijaksana. Maksudnya disesuaikan dengan kondisinya.

Menghadapi orang yang menjengkelkan

Orang Islam bukanlah orang pasif yang jika ada perbuatan buruk hanya diam aja. Tentunya bukan demikian. Justru jika kita membiarkan kedzaliman, kita juga termasuk orang dzalim. Kita ambil contoh misalnya seorang hakim yang mengurus hukum orang-orang yang berbuat kriminal. Hakim tidak perlu dendam dan marah-marah terhadap para tersangka. Lapang, legowo, calm. Namun memaafkan para pelaku kriminal bukan berarti membiarkannya bebas. Hakim yang pemaaf itu bukan hakim yang membiarkan para tersangka langsung dibebaskan sehingga bisa kembali bebas “berkeliaran”. Konsekuensi tetap harus jalan. Kalau memang harus dihukum penjara 10 tahun, ya tetapkan penjara 10 tahun. Kalau aturannya harus dihukum penjara 15 tahun, ya tetapkan penjara 15 tahun.

Misalnya jika kita mempunyai perusahaan dan ada karyawan yang attitude-nya kurang baik, maka maafkanlah tidak perlu dendam dan marah-marah. Jika melakukannya lagi, maafkan lagi, diingatkan dan dibimbing. Jika masih melakukannya lagi, maafkan lagi namun konsekuensi tetap dilakukan. Misal, karyawan ini diberi sanksi atau bahkan tidak dipekerjakan lagi. Hal ini dilakukan bukan karena kita lagi marah atapun dendam, namun hal tersebut memang seharusnya dilakukan demikian.

Kita sebagai orang islam nggak perlu marah-marah apalagi dendam, yang penting adalah ketegasan. Antara marah dengan tegas merupakan dua hal yang sangat berbeda. Secara batin, maafkanlah orang tersebut, bersikaplah lapang, tenang, dan dewasa. Namun secara lahir lakukanlah apa yang seharusnya memang dilakukan agar keburukan itu tidak terjadi atau minimal kita tidak mendapat dampak dari perbuatan buruknya tersebut.

“Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma´ruf, serta jangan pedulikan orang-orang yang bertindak bodoh.” (Qs al-A’raf: 199)

Jadi, daripada terbuang waktu dan energi hanya karena jengkel dan mengurus sesuatu yang tidak manfaat, jauh lebih baik memfokuskan waktu dan energi kita untuk berbuat baik dan manfaat kepada orang-orang yang lebih berhak mendapatkannya.

2 thoughts on “Menghadapi Orang yang Menjengkelkan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s