Tauhid : Pondasi Amal Perbuatan (2)

Terkadang ada orang yang terlihat biasa-biasa saja, pengetahuan agamanya juga biasa-biasa saja namun punya kedudukan di sisi Allah. Ada juga orang yang terlihat alim, ibadahnya luar biasa dan ilmu agamanya juga luas namun bisa jadi tidak punya kedudukan di sisi Allah. Hal tersebut karena isi hati keduanyalah yang membedakannya.
Kelak di hari perhitungan akan ada orang yang pandai ilmu agamanya, ada juga orang yang sangat dermawan, bahkan ada juga orang yang mati saat peperangan (islam) namun ternyata mereka Allah masukkan ke dalam neraka karena Allah Maha Mengetahui niat-niat halus yang ada di dalam hati mereka. Yang pandai agamanya dia mencari ilmu bukan untuk mencari keridhaan Allah namun agar dikenal sebagai orang yang berilmu saja. Orang yang dermawan tersebut memberi sebagian hartanya juga bukan untuk mencari keridhaan Allah namun agar disebut sebagai orang yang dermawan. Dan orang yang mati dalam peperangan tersebut juga demikian.

Begitu pentingnya tauhid ini karena hal inilah yang akan mendasari untuk apakah manusia berbuat baik atau beribadah. Allah menerima amal selama dia tidak menyekutukan-Nya dalam beramal dengan sesuatu apapun dan cara-caranya pun sesuai dengan ajaran Islam.

Hal ini pula yang harus diprioritaskan dalam Islam. Karena ada juga yang sibuk memfokuskan pada syari’at namun akan kurang efektif jika masyarakatnya keimanannya masih belum mumpuni. Misalnya ada orang yang katanya islami terlihat “memaksa” kepada orang lain untuk patuh pada syari’at. Hal ini cenderung kurang efektif bahkan efeknya bisa jadi tidak baik karena ibadah adalah keikhlasan kepada Allah dengan kerelaan hati. Saya sendiri lebih memfokuskan pada keimanan dahulu dengan melihat kondisi realita masyarakat. Karena kalau keimanan sudah melekat di hati maka dengan senang hati ia akan patuh kepada Allah dan perintah-perintah Allah pun itu untuk kebaikannya sendiri. Insya Allah ia akan bahagia di dunia dan akhirat. Karena di dunia ia bisa merasakan indahnya hidup patuh kepada-Nya dan itu akan mengantarkannya kepada kebahagiaan akhirat (dengan izin Allah).
Dahulu cara Rasulullah SAW berdakwah pun demikian. Beliau tidak langsung menyebarkan aturan-aturan yang harus dilaksanakan dalam Islam namun terlebih dahulu pada tauhid selama kurang lebih 13 tahun. Dengan demikian ketika keimanan tertanam kuat di dalam hati lalu turun wahyu tentang syari’at, maka dengan mudah umat mukmin pada waktu menerima perintah Allah dan Rasul-Nya. Dan begitu turun perintah Allah dan perintah Rasulullah SAW untuk berbuat baik, maka dengan mudah orang-orang mukmin menerima perintah tersebut sehingga akhlaknya berubah menjadi lebih baik. Maka hal inilah cara yang efektif untuk membangun Islam yang kokoh.
Ada orang yang beranggapan bahwa orang yang terlalu lekat dengan Islam atau hal-hal yang bersifat dengan keagamaan maka ia disebut sebagai orang yang terlalu fanatik terhadap agama. Sebenarnya ada perbedaan mana yang disebut orang fanatik dengan orang yang baik/patuh kepada Allah yang mempunyai nilai manfaat. Mungkin hal ini dibahas di lain waktu dengan topik yang lain, insya Allah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s