Tauhid: Pondasi Amal Perbuatan

Menarik ketika sedikit tahu tentang Pondasi Tiang Pancang. Orang dari teknik sipil pasti udah sangat mengenal dengan hal ini. Tapi yang bikin saya tertarik adalah filosofi dari pondasi tiang pancang itu sendiri.

Pondasi ini adalah pondasi yang ditanam ke dalam tanah sehingga akan membuat bangunan di atasnya menjadi kokoh berdiri tegak di atas tanah. Kalau bangunan itu besar dan tinggi namun pondasi yang ditanam ke dalam tanah ini lemah, maka bangunan besar dan bagus sekalipun akan dengan mudahnya untuk rusak atau bahkan roboh. Namun pondasi ini tidak bisa terlihat dengan mata (saat bangunan telah dibangun) karena ia tersembunyi di dalam tanah tapi berperan sangat penting pada suatu bangunan.

Poin pentingnya, seindah dan sebesar apapun bangunan kalau pondasinya tidak mumpuni justru bangunan tersebut bisa roboh dan proses pembangunan itu akhirnya menjadi sia-sia.

Pondasi Tauhid

Ada orang yang kaya, cerdas, IQ tinggi, punya jabatan tinggi, atau apapun yakni anugerah lebih yang mudah terlihat oleh orang lain. Namun jika pondasi yang tertanam di dalam hatinya tidak mumpuni (imannya), justru ia akan “roboh”. Roboh yang dimaksud ini adalah jatuhnya seseorang kepada hal yang dibenci Allah.

Misalnya orang punya jabatan tinggi. Orang lain bisa melihatnya sebagai orang hebat. Namun jika pondasi imannya nggak mumpuni, dia bisa “roboh”, yakni berbuat korupsi, bersikap arogan, dzalim, takabbur, dsb. Orang kaya kekayaannya mudah terlihat bagi banyak orang. Namun jika pondasinya yang tidak terlihat oleh orang lain karena ia adalah sesuatu yang tertanam di dalam hati (iman) tidak mumpuni, yang ada ia malah banyak gaya dengan kekayaan tersebut, merasa bisa berbuat segalanya, dan lain sebagainya. Bahkan orang intelektual yang punya pendidikan tinggi atau kuliah di perguruan tinggi favorit tertentu atau di luar negeri, mungkin orang lain akan melihatnya dengan kekaguman tapi tetep aja kalau pondasi yang ada didalam hatinya nggak mumpuni, dia bisa aja kuliah cuma nyari status sosial, merasa hebat, merasa mulia, merasa derajatnya lebih tinggi dari yang lain, dan lain sebagainya.

Dan ini tidak sebatas pada orang-orang awam saja, bahkan orang yang dikenal sebagai “pemuka agama” bisa saja mengalami hal yang seperti ini. Banyak orang yang mengenalnya sebagai orang yang fasih dalam agama. Ia pandai dalam berdalil dan sebagainya. Dikenal sebagai ustadz atau yang lainnya. Namun pondasi yang tersembunyi di dalam hatinya (iman) rapuh, ia juga bisa “roboh”. Contoh dari “roboh” ini misalnya ia berceramah tapi niatnya tidak tulus karena Allah, ia berceramah hanya agar dibilang orang yang pandai agamanya. Ngasih tausyiah, berpakaian ala ustadz atau kiyai, intinya sih karena ingin dimuliakan dan dispesialkan di dalam masyarakat, ingin mendongkrak namanya atau golongannya. Ng’update status tentang Islam atau apapun lah tapi intinya sih bukan ingin berbagi kebaikan, tidak tulus karena Allah, tapi ingin dikenal sebagai orang alim atau agar banyak orang yang tertarik padanya. Di hatinya sudah bukan Allah lagi. Memang orang lain tidak bisa melihat apa yang di dalam hati seseorang dan mungkin ia bisa mendapat image tersebut dalam komunitasnya, tapi Allah sangat tahu persis apa yang ada di dalam hatinya.

Jadi, ada suatu ilmu yang tidak nampak secara zahir bagi orang lain karena ia adalah sesuatu yang tersembunyi dan tertanam di dalam hati namun hal itu sangat penting agar amal bisa berdiri tegak, kokoh, istiqomah, dan bernilai di sisi Allah.

bersambung

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s