Cinta Sejati

Yang manakah disebut cinta sejati?

Ada seorang laki-laki yang sangat mencintai seorang wanita. Ia ingin wanita itu bahagia. Ia rayu dengan ucapan manis yang membuat hati seorang wanitanya melayang. Bagai hati bersayap dan terbang di alam khayalnya. Jika ada laki-laki lain yang mengganggu wanitanya, ia berada di depan bagai benteng istana kokoh yang tak kan runtuh. Di saat berdua, ia genggam tangannya, ia dekap seolah ingin hidup bersamanya abadi selamanya.

Apakah ini cinta sejati? Masih belum. Apalagi jika ternyata ia bukan istrinya, sudah pasti bukan. Karena kalau memang cinta pasti ingin yang dicintainya itu selamat dan bahagia terutama di akhirat. Kalau menyentuh non mahrom, apalagi mengajaknya mendekati maksiat, itu justu mencelakakan yang “diakui” sebagai orang yang dicintainya. Itu hanyalah cinta yang menyamar seolah cinta yang agung. Syaitan telah berhasil menjadikan mereka memandang indah perbuatan-perbuatan mereka. Kalau mau yang halal, nikah dulu.

Lalu manakah yang disebut cinta sejati?

Seorang ayah sangat bangga ketika anaknya yang mungil lahir dari istrinya tercinta. Ia peluk dan cium penerus genarasinya. Ia bekerja siang malam membanting tulang, dengan peluh keringat hanya untuk kebahagiaan keluarganya. Dan seorang ibu mengasuhnya dengan penuh cinta kasih. Ia yang mengandung selama 9 bulan dalam keadaan susah yang bertambah-tambah. Di saat melahirkan dengan perjuangan bahkan mempertaruhkan nyawanya dengan rasa sakit yang sangat. Tidak sedikit seorang ibu yang meninggal saat melahirkan anaknya. Ibunya merawatnya, mendidiknya hingga tumbuh besar. Dan meskipun anaknya terkadang sangat menjengkelkan, ibunya tetap sabar mendidiknya agar anaknya tumbuh sehat bahagia dan kelak menjadi orang yang berhasil.

Barulah kita tahu inilah cinta sejati? Namun saya menyebutnya masih belum. Tapi yang perlu digaris bawahi bukan karena saya tidak tahu berterima kasih kepada kedua orang tuaku. Saya bisa rasakan bagaimana kasih sayang dan perjuangan kedua orang tuaku sejak saya kecil karena memang kedua orang tuaku sangat baik sekali kepadaku, kasih sayang yang sangat dan juga dari keluargaku (saudara-saudara). Dan untuk orang-orang di dunia saat ini, di hati saya kedua orang tuaku lah yang paling aku utamakan dan juga keluargaku.

Lalu kenapa menyebutnya masih ada yang kurang? |  Karena hal ini masalah yang bersifat relatif, berarti ada yang lebih lagi dari itu. Dia adalah Nabi Muhammad SAW.

Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin. (Qs 9:128)

Hadis riwayat Abu Hurairah ra. dia berkata:

Rasulullah saw. bersabda: Sesungguhnya perumpamaanku dan umatku adalah seperti seorang yang menyalakan api yang mengakibatkan binatang-binatang melata dan nyamuk terperangkap ke dalam api tersebut. Aku sudah berusaha memegang ikat pinggang kalian namun kalian malah menceburkan diri ke dalamnya. (Shahih Muslim No.4234)

Rasulullah saw. berjuang bagaimana agar umatnya bahagia, agar sukses, menang, dan selamat selamanya, tidak hanya di dunia yang sangat sebentar, namun juga bahagia selamanya dalam keabadian. Kalau Rasulullah saw nggak cinta kepada kita, tentunya Rasulullah saw nggak usah capek-capek berjuang sedemikian beratnya. Beliau dicaci, difitnah, diboikot, dilempari batu,  diganggu sampai wajahnya berdarah, diperangi, beliau tetap konsisten berjuang untuk kebaikan umatnya, agar umatnya selamat dunia akhirat. Kalau nggak gitu, kita mungkin nggak dapet petunjuk lewat beliau dan nggak selamat dan di akhirat menderita selamanya. Dan itu penderitaan yang sebenar-benarnya. Tahukah penderitaan yang paling ringan di akhirat kelak? Siksaan paling ringan di akhirat adalah 2 bara api yang ditaruh di bawah kaki hingga membuat otak mendidih. Semoga Allah melindungi kita dari hal ini. Aamiin

Ini untuk level manusia tentunya. Kalau mau melihat dari segala hal, tentunya puncak dari cinta sejati itu hanya Allah. Bukan cinta kita kepada Allah, tapi cinta Allah kepada kita. Karena segala kebaikan dan keindahan itu adalah dari Allah.

Tapi pada intinya cinta sejati itu bukan cinta yang mementingkan keindahan romantisme aja, namun harus dipastikan apakah keindahan tersebut memang benar-benar keindahan yang sebenarnya ataukah hanya fatamorgana. Apakah keindahan kecil dan sebentar yang mengantarkan pada penderitaan yang lama ataukah keindahan yang juga menyelamatkan kita dari kesengsaraan dan mengantarkan kita pada kebahagiaan yang benar-benar bahagia dan kekal kelak. Karena ada juga yang mengatasnamakan cinta namun  menodai kesucian cinta itu sendiri. Semoga Allah melindungi kita dari hal seperti ini.

Cinta Sejati

Keindahan yang paling indah di dunia ini hanyalah setetes embun kecil dibandingkan dengan air di samudera yang luas, yakni kebahagiaan yang ada di akhirat kelak. Sangat disayangkan jika kita menukar kebahagiaan akhirat dengan kebahagiaan dunia yang sangat sedikit dengan cara yang nggak benar. Padahal jika tujuan kita adalah kebahagiaan akhirat, caranya adalah dengan jalan yang benar dan insya Allah di dunia juga bahagia. Ini yang pernah pdkt sama orang yang dicintai, bagaimana rasanya, indah? Apalagi kalau jadi nikah. Kalau nikah jadi sebegitu bahagianya, apalagi kalau di surga kelak dipertemukan lagi dan hidup bersama. Dan wajahnya udah sangat berbeda. Sangat cantik, jauh kecantikannya nggak bisa dibayangkan di dunia. Seandainya bidadari surga menampakkan sebentar ke dunia, itu cahayanya menerangi langit dan bumi. Bahkan kerudung penutup kepalanya itu jauh lebih indah dari dunia dan seisinya. Yang cowok juga tampannya udah sangat beda. Yang paling ganteng di dunia ini juga nggak ada apa-apanya dibandingkan ketampanan ahli surga kelak. Apalagi di surga itu kebun-kebun yang indah dan pohon-pohon yang rindang yang buahnya sangat mudah diambil. Dibawahnya juga ada sungai yang mengalir indah. Dan keindahan cinta di dunia itu nggak ada apa-apanya karena itu hanya satu bagian saja dari seratus kerahmatan dari Allah. Sedangkan sembilan puluh sembilannya di surga kelak. Kalau cinta yang dirasakan di dunia udah bisa bikin seneng, apalagi cinta yang dirasakan disurga. Gimana rasanya kalau kita hidup di sana dengan istri kita kelak, keluarga kita kelak, dan di sana tetap muda dan tidak ada kematian lagi, tidak ada kesusahan dan kepayahan lagi, yang ada hanyalah kebahagiaan yang terus menerus, dan hidup dalam cinta yang kekal abadi.

Cinta abadi itu ada. Dan jalannya bukanlah seperti film-film romantis ataupun novel khayalan. Tidak ada jalan untuk meraih cinta abadi selain dengan jalan ketakwaan kepada Allah, karena yang punya surga adalah Allah.

One thought on “Cinta Sejati

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s