Rahasia Dicintai, Tak Sekedar Mencintai II

Lanjutan dari Rahasia Dicintai, Tak Sekedar Mencintai

Dari Abul-Abbas Sahl bin Sa’d As-Sa’idi rodhiallohu ‘anhu dia berkata: Seorang laki-laki datang kepada Nabi sholallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata, “Wahai Rasulullah, tunjukkan aku suatu amal, jika aku lakukan akau akan dicintai Alloh dan dicintai oleh manusia. “Rasulullah sholallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Zuhudlah terhadap dunia, niscaya dicintai Alloh dan zuhud lah terhadap apa yang dimiliki orang lain, niscaya mereka akan mencintaimu” (HR. Ibnu Majah)

Zuhud pada dunia adalah nggak ada ambisi atau ketamakan terhadap dunia, karena udah yakin, memiliki dunia bukan suatu tanda kemuliaan. Udah yakin dunia bukan segala-galanya, namun yang segala-galanya baginya adalah Allah. Namun bukan meninggalkan dunia (harta). Tapi mempergunakan dunia sebagai alat untuk ibadah, bukan menjadikannya sebagai tujuan utama dan tidak diagungkan.

Sedangkan zuhud terhadap apa yang dimiliki orang lain adalah tidak berambisi untuk memiliki/mengambil apa yang menjadi milik orang lain, udah nggak peduli atau nggak ngarep terhadap apa yang dimiliki/ yang ada pada orang lain, yang penting orang lain tersebut bahagia dan kita bisa memberi manfaat/ berbuat baik padanya, udah cukup. Ketampanan/kecantikannya, hartanya, jabatannya, dll memang bisa mengesankan, tapi hal itu nggak ada apa-apanya dibandingkan orang tersebut. Baginya, diri orang lain itu lah yang benar-benar berharga dibandingkan dengan apa yang dimiliki orang lain tersebut.

Ada kalimat,

“Aku ingin berbuat baik kepadamu. Aku minta maaf jika apa yang aku perbuat mengecewakan. Aku harap kehadiranku memberikan manfaat bagimu dan membuatmu merasa nyaman dan bahagia. Semampuku aku akan menjagamu. Engkau ciptaan Allah yang berharga. Dan aku tak berharap apa-apa darimu atas apa yang aku lakukan, karena Allah yang kan membalas setiap perbuatan baik yang aku lakukan.”

Jika saat berinteraksi dengan seseorang kalimat tersebut ada dalam hati kita dengan jujur dan tulus, dan kejujuran kalimat tersebut dibuktikan dalam sikap dan perbuatan (tapi nggak perlu diucapin dengan lisan ya, kalimat di atas tangkap dengan bahasa perasaan saja, tidak harus persis seperti di atas), lalu orang lain dengan hatinya bisa menangkap pesan ini lewat sikap dan perbuatan kita, coba lihat deh apa yang kan Allah takdirkan untuk kita. Kalau saya sendiri ketemu sama orang kayak gini, hati bakalan nyaman, adem. |Tapi saya udah melakukannya tapi kok nggak terjadi seperti itu ya, bar? | Berarti belum melakukan sepenuhnya. Kalau masih ada pertanyaan tersebut dalam hati, berarti masih ada perasaan berharap, benar? Jadi nggak usah difikirkan, yang tulus |

Tapi gimana bisa punya ketulusan yang demikian?

Seseorang kan punya ketulusan dan keikhlasan karena udah yakin tertanam dalam hati Allah lah segala-galanya. Ia berbuat baik pada orang lain, ingin memberikan kebahagiaan orang lain, menyayangi orang lain karena ia tahu Allah suka pada orang yang berbuat demikian. Dan ia pun tak mengharap balasan dari orang lain, karena udah yakin cukup Allah yang membalas kebaikan lewat jalan mana aja yang Allah kehendaki. Ia udah yakin, Allah Maha Melihat atas apa yang ia kerjakan. Apakah setelah berbuat baik orang yang ditolong tersebut malah marah-marah, nggak ngucapin terima kasih, nggak apa-apa. Ia tetep seneng karena udah bisa berbuat baik. Karena setiap kebaikan yang ia perbuat, Allah pasti membalas kebaikan yang lebih. Alhamdulillah.

|Bagaimana jika kita mencintai seseorang, kita berbuat baik padanya dengan harapan agar ia juga mencintai kita? | Ini juga nggak perlu dilakukan. Itupun masih ngarep pada orang lain. Allah udah tahu segala isi hati kita. Misal kita mencintai seseorang, Allah udah tahu. Segala keinginan yang ada dalam hati kita, Allah juga udah tahu semuanya. Allah pun juga berkuasa memberikan jalan keluar yang terbaik untuk hamba-Nya. Jadi, “titipkan” ke Allah aja. Bukan “berharap padanya”, tapi “berharap pada-Nya”. Karena yang berkuasa atas takdir, yang berkuasa atas hati setiap orang adalah Allah. Hanya Allah yang berkuasa membolak-balikan hati setiap orang. Jadi, kita berbuat baik cukup hanya karena Allah. Apakah orang lain mencintai kita atau nggak, nanti Allah yang urus. (Haditsnya nanti, Insya Allah dibahas di bagian terakhir tulisan ini.)

Apa bedanya “berharap padanya” dengan “berharap pada-Nya”?

Kalau “berharap padanya”, melakukan apapun yang penting orang lain senang meskipun melakukan apa yang bikin Allah nggak seneng. Misal, kita lebih mengutamakan orang yang kita cintai, mau berkorban untuknya, yang penting dia seneng tapi nggak dengan Allah. Allah malah dinomor duakan bahkan dilupakan.

Tapi kalau “berharap pada-Nya”, melakukan kebaikan, membuat orang lain bahagia hal itu dilakukan semata-mata karena kepatuhan ia pada Allah. Karena mencintai Allah -lah, maka ia mencintai orang lain dengan ketulusan. Tidak ada maksud lain dari apa yang dilakukannya. Dan cara-cara yang dilakukan seseuai dengan cara yang Allah sukai. | Tapi misalnya orang yang kita cintai nggak seneng kalau kita lebih mengutamakan cara-cara Allah gimana nih? | Ajak ia pelan-pelan pada kebaikan. | Kalau nggak mau? | Ya, kita nggak bisa memaksa. Hati seseorang dalam kuasa Allah. Kita nggak bisa menuntut apa-apa darinya. Jika ia nggak suka pada apa yang kita lakukan, yang penting kita tetep pilih Allah, Allah -lah yang segala-galanya. Manusia boleh murka, tapi jangan sampe untuk Allah. Sekuat tenaga untuk teguh berbuat demikian. Karena mudah bagi Allah suatu saat nanti membuat ia ridho pada kita.

Barangsiapa memurkakan (membuat marah) Allah untuk meraih keridhaan manusia maka Allah murka kepadanya dan menjadikan orang yang semula meridhoinya menjadi murka kepadanya. Namun barangsiapa meridhokan Allah (meskipun) dalam kemurkaan manusia maka Allah akan meridhoinya dan meridhokan kepadanya orang yang pernah memurkainya, sehingga Allah memperindahnya, memperindah ucapannya dan perbuatannya dalam pandanganNya. (HR. Ath-Thabrani)

Mencintai Allah adalah pondasi dan jangan sampai lepas. Jangan sampai kita menjauhi Allah hanya untuk mendekati orang lain, tapi dekatilah Allah dan biarlah Allah yang membuat orang lain dengan kita menjadi saling dekat. Allah berkuasa atas segala sesuatu.

“Orang yang belas kasihan akan dikasihi Arrahman (Yang Maha Pengasih), karena itu kasih sayangilah yang di muka bumi, niscaya kamu dikasih-sayangi mereka yang di langit.” (HR. Bukhari)

Kebaikan-kebaikan (kasih sayang) yang kita lakukan adalah dengan keikhlasan. Cukup biar Allah mencintai kita. Dan, jika Allah udah mencintai kita, maka……

“Hadis riwayat Abu Hurairah ra., ia berkata:
Rasulullah saw. bersabda: Sesungguhnya apabila Allah mencintai seorang hamba, maka Dia akan memanggil Jibril dan berkata: Sesungguhnya Aku mencintai si polan maka cintailah dia! Jibril pun mencintainya. Kemudian dia menyeru para penghuni langit: Sesungguhnya Allah mencintai si polan, maka cintailah dia! Para penghuni langitpun mencintainya. Kemudian dia pun diterima di bumi. Dan apabila Allah membenci seorang hamba, maka Dia memanggil Jibril dan berkata: Sesungguhnya Aku membenci si polan, maka bencilah pula dia! Jibril pun membencinya. Kemudian dia menyeru para penghuni langit: Sesungguhnya Allah membenci si polan, maka bencilah kepadanya. Para penghuni langit pun membencinya. Kemudian kebencianpun merambat ke bumi.” (Shahih Muslim No.4772)

Ketampanan/kecantikan, kemewahan, punya talenta yang menarik, dsb itu hanya tampilan luar yang menjadi daya tarik di awal aja. Hal tersebut memang bisa menjadi nilai tambah. Tapi kesenangannya bersifat sementara. Namun sikap zuhud dan ketulusan yang dilakukan itulah yang kan membekas di hati seseorang dan membuat yang ada didekatnya merasa nyaman.

“Kamu tidak bisa memperoleh simpati semua orang dengan hartamu tetapi dengan wajah yang menarik (simpati) dan dengan akhlak yang baik.” (HR. Abu Ya’la dan Al-Baihaqi)

| Bar, kenapa kok nggak dijelasin cara-cara detailnya. Misal, pertama harus senyum, kedua bersikap baik dan sopan, sabar, dan seterusnya? | Hal itu hanya bersifat teknis. Lewat tulisan ini ingin menjelaskan apa yang seharusnya tertatanam dalam hati kita. Jika dalam hati udah tertanam demikian, maka senyuman, sikap baik, kesopanan, cara berbicara yang baik, dll itu akan muncul dengan sendirinya. Sikap dan perbuatannya juga lebih jujur dari hati. Jika teknis dibagus-bagusin tapi hatinya nggak, suatu saat bisa bikin kecewa orang lain. Karena hati nggak bisa bohong. Lagipula bisa gak bernilai ibadah, kan sayang.|

“Ketahuilah bahwa dalam diri ini terdapat segumpal daging, jika dia baik maka baiklah seluruh tubuh ini dan jika dia buruk, maka buruklah seluruh tubuh; ketahuilah bahwa dia adalah hati” (HR. Muttafaq’ Alaih)

Kesimpulannya,
kita mencintai Allah, baik-baik ke Allah bukan untuk berharap agar dicintai manusia, namun sebaliknya, kita berbuat baik, mengasihi, menginginkan orang lain bahagia dengan cara-cara Allah agar Allah mencintai kita. Lewat tulisan ini juga ingin menyampaikan, kalau tujuan kita Allah, dan Allah mencintai kita, maka tidak ada kekhawatiran lagi. Rezeki, kebahagiaan, jalan hidup, relasi dengan orang lain, urusan akhirat, semuanya beres di urus Allah.

Cukuplah Allah bagiku; tidak ada Tuhan selain Dia. Hanya kepada-Nya aku bertawakal dan Dia adalah Tuhan yang memiliki Arasy yang agung (Qs At-Taubah:129)

3 thoughts on “Rahasia Dicintai, Tak Sekedar Mencintai II

  1. Tapi semuanya sudah terlambat untuk mengubah aku mengerti yang kamu maksud namun aku sudah terlanjur jauh untuk semua ini munkin semua rang telah tahu yg terjadi di saat ini sekali lagi maaf aku tak bisa untuk menerima semua ini aku sudah jauh dari kalian sementara aku sudah ada rang yg menemani dan peduli pada aku lebih baik carilah rang lain aku tak bisa maaf ,,,,,,,,,,,,,,,, teman ,,,,,,,,,,,,,,,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s