Berserah Diri (Tawakkal) pada Allah,Kunci Hidup Tenang

Seperti sutradara yang membuat film, lalu di burn dalam keping DVD dan ditanyangkan. Adakah saat diputar ulang aktor film tersebut menyalahi/berbeda dengan saat syuting? Misalnya saat syuting aktor beradegan naik mobil Ferrari. Tapi saat ditayangkan di DVD Player, tiba-tiba aktor malah beradegan naik sepeda. Hal ini tidak mungkin. Semua yang telah ditetapkan sutradara dan di burn dalam keping DVD telah ditetapkan dan tidak akan berubah saat ditayangkan.

Allah Yang Maha Sempurna telah memprogram sempurna segala yang terjadi dari awal hingga akhir. Semuanya telah tertulis dalam Lauhul Mahfuzh. Dan semua yang terjadi di dunia ini dari awal hingga akhir adalah “penayangan film kehidupan” yang telah tertulis dalam Lauhul Mahfuzh.

Jadi, ridho nggak ridho, apa yang dikehendaki Allah tetep terjadi. Kalau gitu mending ridho saja. Kalau rangkaian dunia telah ditetapkan, lalu kenapa susah payah ngejar dunia? Tentu sia-sia, rugi energi dan rugi waktu. Tak heran jika tidak menerima takdir Allah, pasti hati gelisah, nggak tenang, nggak puas, letih, dsb.

Allah Maha Kuasa. Takdir Allah sangatlah rumit. Ada pemikiran di atas pemikiran. Akal tidak akan sampai kesana. Semakin difikirkan, semakin menyadari tidak akan ada habisnya untuk difikirkan. Semakin menyadari kerumitannya, semakin menyadari ketidakberdayaan kita pada Allah.

Jika takdir sangatlah rumit dan tidak bisa dimanipulasi/diubah dari ketetapan Allah Yang Maha Pandai, jadi kita berfikir simpel saja. Yakni, Allah nyuruh ini, laksanakan dengan kemampuan terbaik. Allah melarang itu, hindari semampunya. Melaksanakan kebaikan hanya untuk Allah, bukan untuk dunia yang telah ditetapkan-Nya.

Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya (tulus ikhlas) dalam (menjalankan) agama dengan lurus, dan supaya mereka mendirikan salat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus. (Al-Bayyinah:5)

Kalau hidup hanya untuk Allah, berserah diri (tawakkal pada Allah), melakukan kebaikan/berusaha karena Allah, hati makin puas, tenang, tentram, dan nyaman.

(Tidak demikian) bahkan barang siapa yang menyerahkan diri kepada Allah, sedang ia berbuat kebajikan, maka baginya pahala pada sisi Tuhannya dan tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (Al-Baqarah:112)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s