Kerja Keras yang Sia-Sia

Sebenarnya apa yang telah kita (lebih-lebih penulis sendiri) perjuangan usaha selama hidup  ini banyak yang sia-sia. Ilmu yang kita kejar, penghargaan yang kita raih, status sosial, kekayaan, jabatan, dsb banyak yang sia-sia. Yang ada hanya capek dan mumet aja.

Ada cerita, seseorang dengan susah payah naik gunung. Dua ember besar yang ia bawa hendak mengambil air. Setelah ia isi penuh, ia kembali ke bawah dengan tertatih-tatih. Peluhnya bercucuran, kaki dan tangannya terasa pegal sekali. Lalu ia menampungkan air yang bawa dari pegunungan tersebut pada sebuah gelas sangat kecil. Tentu saja airnya tumpah dan banyak yang terbuang sia-sia. Yang ada sekarang airnya tinggal segelas sangat kecil. Lalu ia kembali ke gunung dengan penuh perjuangan, kembali mengisi air di pegunungan pada dua ember yang ia bawa. Lalu ia turun dengan susah payah. Keringatnya kembali bercucuran lebih banyak. Lagi-lagi, ia menampungkan air dua ember tersebut pada sebuah gelas kecil yang telah terisi penuh air tadi. Tentu saja kembali airnya tumpah dan terbuang banyak sekali. Air yang ada hanya pada gelas kecil tersebut.

Gelas itu adalah aqidah (keimanan). Sebanyak apapun amal yang kita perbuat, kalau tidak dengan keimanan yang mumpuni (tidak dilakukan karena Allah), sia-sia lah apa yang kita usahakan. Tentu tidak sia-sia semuanya karena seperti cerita di atas masih ada sisa air sebanyak ukuran gelas kecil tersebut. Tapi ini sedikit sekali. Tidak sebanding dengan apa yang kita usahakan. Banyak energi dan waktu yang kita gunakan selama hidup yang ternyata tak bernilai di mata Allah. Sebanyak apapun amal tapi tidak dilandasi keimanan (dilakukan murni karena Allah), tetaplah tak ada nilainya.

Jika tidak ingin menyia-nyiakan air yang kita timba dari gunung dengan susah payah, terlebih dahulu kita harus punya gelas/ wadah air yang besar untuk menampung semua air. Jadi, hal pertama yang harus kita benahi dahulu adalah keimanan.  Dan mulailah dengan mengenal Allah. Dengan mengenal Allah, kita jadi mencintai-Nya. Dengan mencintai-Nya, tauhid semakin kuat. Tauhid semakin kuat, amal yang diperbuat (sesuai cara perintah Allah), semakin bernilai. Semakin bernilai, semakin dicintai Allah.

Katakanlah: “Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?”
Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya.(Al-Kahfi:103-104)

Allah berfirman “Aku adalah yang paling tidak butuh kepada syarikat, maka barangsiapa yang beramal suatu amalan untuku lantas ia mensyerikatkan amalannya tersebut (juga) kepada selainku maka Aku berlepas diri darinya dan ia untuk yang dia syarikatkan” (HR. Ibnu Majah 2/1405 no. 4202, dan ia adalah hadits yang shahih, sebagaimana perkataan Syaikh Abdul Malik Ar-Romadhoni, adapun lafal Imam Muslim (4/2289 no 2985) adalah, “aku tinggalkan dia dan ksyirikannya”).

Sesungguhnya amal-amal perbuatan tergantung niatnya, dan bagi tiap orang apa yang diniatinya. Barangsiapa hijrahnya kepada Allah dan rasul-Nya maka hijrahnya kepada Allah dan rasul-Nya. Barangsiapa hijrahnya untuk meraih kesenangan dunia atau menikahi wanita, maka hijrahnya adalah kepada apa yang ia hijrahi. (HR. Bukhari)

Manusia dibangkitkan kembali kelak sesuai dengan niat-niat mereka. (HR.-Muslim)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s