Rezeki yang Mencari Kita

Ketika di kos sedang haus, persediaan air mulai menipis (hampir habis). Kemudian nelfon ke agen air galon, pesan air galon dengan menyebutkan alamat kos. Beberapa menit kemudian datanglah seseorang membawa air galon membawa pesananku tadi lalu aku membayar air galon tersebut.

Aku liat galonnya tertulis “Mata Air Babakan Pari, Gunung Salak” yang berarti air tersebut berasal dari mata air Gunung Salak, Sukabumi. Perusahaan air mineral tersebut mengambilnya, mensterilkannya, mengemasnya sedemikian rupa dan mendistribusikannya hingga sampai ke agen air galon. Lalu penjual tersebut mengantarkannya ke kos. Atas kuasa Allah dengan pengaturan-Nya yang sangat rumit, air tersebut yang berasal dari tempat jauh, bisa sampai ke kosan di Bandung. Atas kuasa Allah dengan pengaturan-Nya, aku juga diberi rezeki berupa uang agar bisa membeli air galon tersebut. Aku tidak bisa menciptakan air, tidak bisa menciptakan uang, alat transportasi,alat komunikasi, dsb. Alhamdulillah, aku bisanya tinggal minum saja dan bisa melepas dahaga.

Sebenarnya Allah telah menjamin dan menentukan rezeki kita, namun karena kita tidak yakin dan tidak dekat kepada Allah Yang Maha Memberi, akhirnya kita takut rezeki itu tidak ada. Beberapa orang yang takut tidak mendapat rezeki, banyak melakukan perbuatan yang menyimpang (menipu, korupsi, menjual diri, dsb), naudzubillah mindzalik.

Jika kita menutup mata, kita menyangka dunia ini tidak ada, gelap. Padahal dunia ini ada. Tapi kita tidak bisa melihat karena mata ditutup. Jika hati kita tertutup hingga Allah-pun terasa tidak ada, tidak bisa merasakan kedekatan dengan Allah Yang Maha Memberi, pasti kita takut tidak dapat rezeki padahal rezeki sudah dijamin Allah. Apakah rezeki sesuatu hal yang lari dari kita dan kita harus mengejarnya (hingga lupa Allah) ataukah rezeki adalah sesuatu yang sebenarnya mengejar/ mencari kita sendiri?

Sesungguhnya rezeki mencari seorang hamba sebagaimana ajal mencarinya. (HR. Ath-Thabrani)

Bahagialah orang yang hatinya tenang. Yang menyerahkan diri (bertawakkal) pada Allah dan yakin ini semua Allah yang ngurus. Jadi, yang difokuskan bukan pada takut nggak dapat rezeki, tapi fokuslah pada “membuka mata hati” ini, yaitu pendekatan/berserah diri (tawakkal) kepada Allah. Masalah “takaran” rezeki, Allah-lah Yang Maha Mengetahui yang terbaik untuk kita

Rosululloh ShallAllahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sungguh, seandainya kalian bertawakkal kepada Allah dengan sebenar-benarnya, niscaya kalian akan diberi rizki sebagaimana burung-burung. Mereka berangkat pagi-pagi dalam keadaan lapar, dan pulang sore hari dalam keadaan kenyang.” (HR. Ahmad, At-Tirmidzi, Ibnu Majah, Al-Hakim)

Tawakkal bukanlah pasrah pasif (diam, tidak ada ikhtiar), tawakkal adalah berserah diri/ menyerahkan dirinya untuk tunduk/ diatur perintah Allah (read: ada ikhtiar/taqwa) lalu menyerahkan segala urusan (hasil) pada Allah, ikhlas hanya mengharapkan ridho Allah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s