Sebenarnya Kita Sering Dijebak, tapi Seringkali Tidak Sadar

Coba kita merenung sejenak

Saat kita mendapat karunia Allah (keinginan yang ingin kita capai), kita merasa senang, merasa bahagia, bangga, dsb. Coba renungkan kembali, setelah mendapat karunia tersebut apa kita akan terus bahagia? Lambat laun perasaan kita akan berbeda daripada di saat awal mendapat karunia tersebut. Seperti ada suatu “kebosanan”, tidak merasa bahagia lagi seperti sebelumnya meskipun karunia tersebut masih ada di tangan kita.

Contohnya, seseorang yang dulu ingin punya mobil lalu akhirnya Allah mengabulkannya. Dia sangat senang akhirnya punya mobil. Tapi lambat laun orang ini tidak akan merasakan kesenangan lagi seperti saat dulu pertama mendapat mobil tersebut padahal sekarang mobilnya masih ada.

Secara tidak sadar akhirnya kita berkesimpulan, “Loh, kok sudah tidak bahagia lagi ya? Oh, berarti kalau ingin bahagia lagi, harus punya keinginan-keinginan yang harus terpenuhi lebih banyak lagi.” Sadarkah kalau sebenarnya kita sudah dijebak pada angan-angan/ dugaan kosong? Apa yang kita kejar hanya seperti fatamorgana di padang pasir. Merasa senang ketika seolah-olah melihat air, namun saat didatangi ternyata tidak ada air dan kita masih merasa haus.

Setan telah berhasil memberikan angan-angan kosong bahwa jika ingin bahagia maka harus semakin banyak keinginan-keinginan di dunia dan harus terpenuhi. Akhirnya fokus pada angan-angan dunia hingga lupa Allah. Great! setan telah berhasil memperdaya manusia dan seringkali kita tidak sadar

Setan itu memberikan janji-janji kepada mereka dan membangkitkan angan-angan kosong pada mereka, padahal setan itu tidak menjanjikan kepada mereka selain dari tipuan belaka.(An-Nisaa’:120)

Biarkanlah mereka (di dunia ini) makan dan bersenang-senang dan dilalaikan oleh angan-angan (kosong), maka kelak mereka akan mengetahui (akibat perbuatan mereka).(Al-Hijr:3)

Fatamorgana air di padang pasir sekali-kali tidak akan bisa melepaskan dahaga, tapi hanya bisa membuat orang MERASA bisa melepaskan dahaga. Orang akan bahagia jika ia telah mengenal Allah, bisa merasakan kedekatan dengan Allah, dan selalu ingat Allah. Allah akan memberikan kekayaan ke dalam hatinya hingga ia pun merasakan kebahagiaan, kepuasan, dan ketenteraman. Cukuplah jadikan dunia sebagai alat, bukan tujuan. Dan alat bisa kita gunakan untuk mencapai tujuan utama, Allah.

…Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram. (Ar-Ra’d:28)

2 thoughts on “Sebenarnya Kita Sering Dijebak, tapi Seringkali Tidak Sadar

  1. Betul sekali tuh, Sob!
    Kita sering terjebak dgn ragam keinginan murahan.
    Udah nyabet 1 minlar ingin 2 … 3 dst hingga triliunan nggak terpuaskan.

    Keinginan kita kebanyakan yg terukur dan terjangkau jadi gampang senangnya.
    Kesenangan yg gampang, ya, gampang juga lenyap,
    Lalu bikin keinginan gaqmpangan lagi, dst tak juga terpuaskan.

    Jarang orang punya inginan menjadi rahmat bagi semesta alam.
    Keinginan yg spt ini tak terukur maka sulit terjangkau.
    Keinginan ini adalah keinginan Tuhan thp manusia

    Jika kita tidak punya arah keinginan spt itu
    Itu berarti sama saja dgn tidak punya Tuhan
    Itu juga berarti lebih tertarik dgn janji-janji Setan..

    Salam Damai!

  2. Jika saya bercerita sekarang,
    Maka itu hanya akan membuat sebagian orang memaklumi saya,
    Dan sebagian lagi akan tetap menyalahkan saya,
    Tetapi itu juga akan membuat mereka memaklumi dunia yang seharusnya tidak dimaklumi,
    Dan tidak ada yang dapat menjamin apakah semua dapat memetik hal yang baik dari
    kemakluman itu,
    Atau hanya akan mengikuti keburukannya
    Maka lebih baik saya diam.

    Jika saya bersuara sekarang,
    Maka itu akan membuat,
    Saya terlihat sedikit lebih baik,
    Dan beberapa lainnya terlihat lebih buruk sebenarnya,
    Maka saya lebih baik diam.

    Jika saya berkata sekarang,
    Maka akan hanya ada caci maki,
    Dari lidah ini,
    Dan teriakan kasar tentang kemuakan,
    Serta cemoohan hina pada keadilan,
    Maka saya lebih baik diam.

    Saya hanya akan berkata pada Tuhan, bersuara pada yang berhak,
    Berkata pada diri sendiri,
    Lalu diam kepada yang lainnya,
    Lalu biarkan seleksi Tuhan,
    Bekerja pada hati setiap orang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s