Dunia Ibarat Mall

Si A dan si B ada di sebuah mall.

Si A pergi ke lantai atas dan menghabiskan waktu untuk bermain di arena permainan Tim*zon*. Ia sibuk bermain dan saling bersaing dengan orang-orang yang ada di tempat tersebut untuk mendapatkan poin tertinggi dari setiap permainan. Jika dapet poin tinggi, rasanya bangga sekali meskipun nggak tau apa gunanya dapet hal tersebut. Kesibukannya dalam bermain membuat dirinya lupa untuk merenung untuk apa sebenarnya ia ada di mall.

Berbeda dengan si B, ia sadar bahwa ia berada di mall karena ada tujuan. Ia membeli bahan-bahan makanan, perabotan rumah, dan perlengkapan lainnya. Ia tahu, ia harus menyiapkan “bekal” untuk kepulangannya dari mall nanti. Ia tahu tidak akan berlama-lama di mall. Sesekali ia juga mencari hiburan di mall tersebut tapi tidak berlebihan. Ia mampir ke cafe, makan, istirahat sejenak, dsb.

Setelah mall tutup, si A baru sadar kesibukannya dalam bermain telah membuatnya lengah untuk apa sebenarnya ia ada di mall. Ia tidak membeli apa-apa. Poin-poin yang ia banggakan dari permainan tadi tidak ada gunanya. Ia pulang ke rumahnya dengan tangan kosong, tersiksa, kelaparan, juga nggk ada tempat tidur karena saat di mall tidak membeli bahan makanan dan peralatan lainnya (mellas). Sedangkan si B pulang dengan senang hati. Ia bahagia di rumahnya berjumpa dengan yang dicintainya dan menikmati barang yang ia beli di mall.

Tampaknya kita sering lengah seperti si A. Kesibukan kita pada dunia hingga tidak sempat merenung untuk apa sebenarnya kita hidup di dunia, untuk siapa kita hidup, apa yang kita cari selama hidup, apa saja yang harus dilakukan selama hidup, dan apa saja sebenarnya yang tidak perlu. Perlu direnungi lagi jangan-jangan yang kita kejar atau yang kita cita-citakan dengan sangat sibuknya hanya permainan kosong belaka yang tidak beguna untuk kepulangan kita di akhirat nanti?

Tidak perlu bangga dengan apa yang kita peroleh karena itu milik Allah. Suatu saat akan hancur dan musnah dan tidak akan dibawa mati. Tidak terlalu pesimis jika tidak memperoleh seperti apa yang dibangga-banggakan orang lain. Bisa jadi yang tidak kita miliki hanya poin dari permainan yang sebenarnya tidak memberikan manfaat seperti yang dialami si A. Apa yang perlu dilakukan selama hidup cukup mnyiapkan bekal (beramal soleh) untuk mendapat keridha’an Allah SWT. Sebenarnya itu sudah cukup.

Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-bangga tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.(Al-Hadiid:20)

Hal yang perlu ditakutkan kalau Allah jadi terasa jauh (seringkali karena terlalu sibuk/cinta pada dunia hingga tidak sempat merenungi/ bertafakkur). Tidak akan tenang makhluk selemah ini menghadapi ombak kehidupan yang bertubi-tubi ini tanpa pertolongan Allah.

Tapi kalau sudah benar-benar dekat dengan Allah Yang Maha Kuasa, Yang Maha Pemberi Rezki, Yang Maha Melindungi, Yang Maha Mengurusi, Yang Maha Penyayang, wes tenang. Meskipun hidup sulit dan kita makhluk lemah, tapi ada Allah Yang Maha Kuat yang sangat dekat dan selalu menjaga kita. Semoga kita dicintai Allah SWT dan selalu dekat dengan-Nya, selamanya. Amien

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s