Al-Qur’an dan Hadits, Kebenaran bagi Orang Beriman

1) Bisa saja orang Indonesia mengatakan “badan orang itu tinggi”. Tapi orang Inggris melihat orang yang sama mngatakan tinggi badan orang itu sedang.

2) Bisa saja orang Indonesia mngatakan kota Bandung sejuk. Tapi orang Inggris mengatakan panas.

Dari beberapa contoh tersebut, bisa diamati kalau anggapan kebenaran relatif manusia terpengaruh oleh kebiasaan. Dua pendapat yang berbeda akan saling mengutarakan pendapatnya masing-masing tanpa ada titik temu seperti beberapa contoh di atas. Bagaimana cara mengatasi agar ada titik temunya? Tentu harus ada kesepakatan bersama apa yang akan dijadikan patokan.

Contoh pertama. Tidak akan ada titik temu mengatakan tinggi, sedang, pendek jika kedua pihak punya latar belakang yang berbeda karena hal tersebut bersifat relatif. Tapi jika dikatakan “orang itu tingginya 176 cm”. Maka orang Indonesia dan orang Inggris trsebut mempunyai titik temu yang sama. Jika masih berbeda pendapat,perlu diukur (dikaji) lagi berapa tinggi orang tersebut dan siapa sebenarnya yang benar, Insya Allah ada titik temu.

Contoh kedua. Bilang dingin, panas, sejuk jika keduanya mempunyai latar belakang berbeda (orang Indonesia terbiasa hidup tropis dan orang Inggris terbiasa hidup subtropis) tidak akan ada titik temu lagi. Akhirnya perlu dikaji (diukur) dgan termometer bahwa suhu kota Bandung di daerah sekian waktu sekian adalah 24’C, apakah orang Inggris, Indonesia, Jepang, dsb juga akan mengatakan yang sama.

Misalnya ada wanita yang memakai baju kurang baik dan kurang sopan (KTP Islam) yang “katanya” cantik, keren, dan gaul lalu mengatakan wanita berjilbab nggak gaul, norak, ketinggalan jaman, dsb. Sebaliknya wanita yang berjilbab mengatakan orang yang berpakaian kurang sopan itu malah tidak terlihat cantik. Jika 2 orang ini saling berdebat hanya mengandalkan pikirannya/anggapannya masing-masing, tentu tidak ada titik temunya. Akhirnya perlu patokan yang benar, yaitu Al-Qur’an dan Hadits. Jika sudah seperti ini Insya Allah akan terlihat siapa yang benar dan mana yang tidak.

Ada juga orang islam lain yang mengatakan jika ada orang yang benar-benar menta’ati perintah Allah malah dibilang Islam ekstrim, disangka teroris, dsb. Sebaliknya, orang mukmin yang ta’at ini mengatakan orang yang mengatakan hal seperti tadi adalah tidak baik. Akhirnya perlu adanya titik temu dengan patokan yang benar, yaitu dari Al-Qur’an dan Hadits. Dengan demikian Insya Allah akan terlihat siapakah sebenarnya yang benar.

Budaya, kebiasaan, dunia sekitar, dsb yang salah (tapi saya lebih cenderung menyebutnya godaan syetan) telah memblokir pikiran kita dan membuat hal yang benar (sesuai Al-Qur’an dan Hadits) dianggap salah dan yang salah malah dianggap benar. Jika ada yang mengatakan, “ini kebebasan! Orang yang menta’ati perintah-perintah Allah adalah orang yang tidak bebas, tidak merdeka”. Justru orang yang tidak menjadikan Al-Qur’an dan Hadits adalah orang yang tidak bebas dan tidak merdeka. Karena tanpa disadari setan telah membelenggunya dan dijadikan sebagai pemimpinnya. Yang telah mengkurungnya dari kebahagiaan yang hakiki. Justru orang yang ta’at kepada Allah adalah orang yang bebas dan merdeka karena ia dituntun oleh Allah untuk mendapat kebahagiaan yang sebenarnya.

Sesungguhnya orang-orang yang tidak beriman kepada negeri akhirat, Kami jadikan mereka memandang indah perbuatan-perbuatan mereka, maka mereka bergelimang (dalam kesesatan). Mereka itulah orang-orang yang mendapat (di dunia) azab yang buruk dan mereka di akhirat adalah orang-orang yang paling merugi. Dan sesungguhnya kamu benar-benar diberi Al Qur’an dari sisi (Allah) Yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui.

Jika ada pernyataan yang kurang berkenan, mohon dimaafkan. Apa yang coba saya lakukan agar pikiran kita terbuka bahwa pikiran kita atau bahkan alam bawah sadar kita bisa dimanipulasi tanpa kita sadari. Sehingga kebenaran dari anggapan setiap masing-masing individu tidak bisa dijadilkan sebagai patokan atau kebenaran. Tidak bisa seseorang mengatakan pendapat mereka adalah benar tanpa adanya suatu argumen atau pegangan yang benar. Akhirnya, manusia benar-benar butuh patokan/ petunjuk/ pedoman yang benar, yaitu Al-Qur’an dan Hadits. Allah dekat dengan kita, Allah Maha Kuat, dan Allah adalah sebaik-baik pelindung. Tiada kekuatan dan upaya melainkan dari Allah. Semoga Allah meneguhkan hati kita selalu untuk selalu dekat dengan-Nya. Amien

 Abu Hurairah mengatakan bahwa Rasululah bersabda,” Aku tinggalkan dua perkara untuk kalian. Selama kalian berpegang teguh dengan keduanya tidak akan tersesat selama-lamanya, yaitu Kitabullah dan Sunnahku. Dan tidak akan terpisah keduanya sampai keduanya mendatangiku di haudh ( Sebuah telaga di surga, Pen)” (HR. Imam Malik secara mursal)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s