Yang Maha Indah

Seorang pemuda berjalan dengan langkah cepat ke suatu rumah. Sesampainya di rumah tersebut keluarlah seorang laki-laki agak tua dengan memakai baju muslim.

“Assalamu’alaikum bapak”, salam pemuda tersebut kepada pak ustad.

“Wa’alaikumsalam. Ada apa anakku?”, guru tersebut memanggil muridnya yang ia anggap seperti anaknya sendiri.

Pemuda tersebut kemudian menceritakan apa yang dialaminya. Sebelumnya ia cukup khusyuk menjalankan ibadahnya. Yang teringat hampir di setiap saat adalah Allah, Allah, Allah, Allah. Hampir setiap saat ia banyak mengingat Allah. Ia mencintai tuhannya, Allah. Tentu saja, jika sudah mencintai sesuatu jadi selalu inget apa yang dicintainya. Bahkan lebih susah melupakan yang dicintai daripada mengingatnya. Ini logika sederhana yang hampir semua orang bisa memahaminya apalagi yang pernah merasakan apa itu cinta. Entah mencintai orang tuanya, saudaranya, kekasihnya, benda yang dimilikinya, dsb. Namun akhir-akhir ini ada sosok wanita yang mengalihkan perhatiannya. Tujuh hari dalam seminggu, hidup penuh warna. Wajahmu mengalihkan duniaku. Ya, mungkin itu deskripsi yang cocok untuk apa yang sedang ia alami. Kebaikan wanita tersebut, kelembutan hatinya, dan kecantikannya membuat pemuda tersebut terpesona. Dan wanita tersebut mengajaknya untuk…..

“Sudah jangan diteruskan!”, ustad memotong pembicaraan pemuda tersebut dengan suara tegas.

“Nak, melihat kekayaan orang di dunia ini, kita sering terpesona. Tapi itu terlalu sedikit, banyak kekayaan lain lagi yang jauh lebih banyak. Allah-lah Yang Maha Kaya. Lautan samudera juga sangat luas. Apalagi alam semesta, benar-benar sangat besar. Tapi itu tidak seberapa karena Allah lah Yang Maha Besar. Wanita yang telah mengalihkan perhatianmu itu mungkin memiliki wajah indah dan juga banyak keindahan di alam ini. Kalaupun ia tercantik di dunia ini, itu tidak seberapa. Melihat keindahan di dunia ini termasuk wanita tersebut kamu sudah sangat terpesona, bagaimana rasanya jika bisa melihat yang jauh lebih indah dari itu, Dzat Yang Maha Indah, yaitu Allah?”

Pemuda tersebut merenung. Mungkin wanita yang hadir dalam hatinya hanya sebuah ujian dan tanda. Ujian apakah tetap teguh pada jalan Allah dan tanda untuk memahami bahwa jika keindahan kecil di dunia saja membuat dirinya terlena, bagaimana rasanya jika melihat Dzat Yang Maha Indah, yaitu Allah? Rasanya pasti bahagia sekali.

Wajah-wajah (orang-orang mukmin) pada hari itu berseri-seri. Kepada Tuhannyalah mereka melihat. (Al-Qiyaamah:22:23)

“Nak. Jadi mana yang kamu pilih, melanggar perintah Allah dan memilih keindahan yang sangat kecil dan hanya sesaat atau dekat dengan Allah dan melihat-Nya Yang Maha Indah untuk selamanya di tempat yang sangat baik?”, tanya ustad kepada pemuda.

Pemuda menjawab dengan tegas dan meyakinkan, “Allah Yang Maha Indah.”

“Nak, Allah tidak melarang kamu mencintai wanita. Namun tetaplah Allah yang utama. Jika kamu melanggar ketentuan Allah, belum tentu juga kamu akan bersamanya (berjodoh). Tentu kamu menjadi orang yang sangat merugi. Tidak berjodoh dengan wanita yang kamu senangi, tapi hanya menunjukkan ketidaksetiaanmu pada Allah. Namun jika kamu tetap berpegang teguh pada Allah dan jika Allah menghendaki kamu berjodoh dengannya, nanti kamu akan bersamanya meskipun itu terlihat tidak mungkin. Peluang besar atau kecil bukan yang menentukan hasil akhir, tapi yang menentukan adalah Allah meskipun bagi manusia terlihat tidak mungkin.”

Pemuda tersebut berpamitan dan pulang. Ia bersyukur pada Allah karena Allah menambah keteguhan hatinya. Tidak ada upaya dan kekuatan kecuali hanya dari Allah. Atas kehendaknya-Nya ustad memberikan nasihat kepada pemuda tersebut.

Ia berjalan pulang dengan tegap dengan mengingat perkataan ustadnya dulu,”Nak, ujian bukan hanya di saat bencana, tapi juga ujian kesenangan. Bersabar tidak hanya saat musibah, tapi bersabar untuk tidak melakukan apa yang seharunya tidak dilakukan. Ujian nikmat seringkali terlihat simple tapi banyak yang gagal menjalaninya. Terlihat gampang dan menyenangkan tapi seringkali kita tertipu. Oleh karena itu kamu harus lebih hati-hati saat mendapat ujian nikmat, ingat Allah selalu. Bersabarlah, semoga Allah selalu melindungi kita dari godaan syetan. Tidak ada upaya dan kekuatan melainkan hanya dari Allah.”

 Dan orang-orang yang sabar karena mencari keridaan Tuhannya, mendirikan salat, dan menafkahkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka, secara sembunyi atau terang-terangan serta menolak kejahatan dengan kebaikan; orang-orang itulah yang mendapat tempat kesudahan (yang baik), (yaitu) surga Adn yang mereka masuk ke dalamnya bersama-sama dengan orang-orang yang saleh dari bapak-bapaknya, istri-istrinya dan anak cucunya, sedang malaikat-malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu; (sambil mengucapkan): “Salamun ‘alaikum bima shabartum”. Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu.(Ar-Ra’d:22-24)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s