Bukan Perbuatan Besar, Tapi Perbuatan yang Bernilai

Untuk kali ini, mohon maaf kalau nggak disajikan dalam bentuk cerpen (lagi mentok ide) dan terkesan menggurui. Tapi menurutku ini sesuatu yang penting untuk disampaikan.

Seandainya ada 2 pilihan yang harus dipilih,

1) Disuruh berusaha untuk mendapatkan prestasi penghargaan, sukses dalam karir, punya jabatan tinggi, gelar di namanya banyak, tajir, dll lalu mendaptkannya tapi dilakukan bukan karena Allah,

2) Disuruh cuma senyum (ramah) ke mukmin lain dan dilakukan karena Allah dan Allah meridhoinya.

Menurutku orang yang melakukan pilihan kedua adalah orang yang jauh lebih sukses dari orang yng melakukan pilihan pertama. Bukan ukuran besar kecilnya yang dilakukan seseorang, tapi seberapa bernilai perbuatan orang tersebut. Hidup sebenarnya simple-simple aja, ikuti aturan mainnya semampunya dan lakukan dengan niat yang benar. Bisa jadi perbuatan yang terlihat sepele bisa sangat bernilai, dan bisa jadi perbuatan hal yang besar malah nggak bernilai. Poin terpentingnya, perbuatan yang bernilai.

Jika ada suatu perlombaan aturan mainnya mengambil mutiara (lagi) sebanyak-banyaknya, tapi dalam perlombaan kita malah mengambil emas, permata, berlian, dsb meskipun menurut kita mungkin itu lebih indah, tetap saja jika di akhir perlombaan kita nggak membawa mutiara, kita kalah. Meskipun ada peserta lomba nggak membawa emas, permata, berlian, dsb sama sekali dan hanya membawa satu butir mutiara, bisa jadi dia yang menang karena dia mengikuti aturan main. Tentu rugi kalau kita udah capek-capek berusaha, ternyata perbuatan kita sia-sia, nggak bernilai. Apa yang kita kejar di dunia ini?

Katakanlah: “Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?” Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya. (Al-Kahfi:103-104)

Barang siapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan?(Hud:15-16)

Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus, dan supaya mereka mendirikan salat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.(Al-Bayyinah:5)

Memurnikan ketaatan kepada-Nya. Melakukan ini dan itu (kebaikan) hanya karena Allah (untuk mendapatkan keridha’an-Nya)

Sesungguhnya amal-amal perbuatan tergantung niatnya, dan bagi tiap orang apa yang diniatinya. Barangsiapa hijrahnya kepada Allah dan rasul-Nya maka hijrahnya kepada Allah dan rasul-Nya. Barangsiapa hijrahnya untuk meraih kesenangan dunia atau menikahi wanita, maka hijrahnya adalah kepada apa yang ia hijrahi. (HR. Bukhari)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s