Allah Menyuruh Tidak Berputus Asa

Setelah menyia-nyiakan hidupnya, si fulan akhirnya insyaf dan ingin berbuat segala sesuatu yang bermanfaat. Perjalanan hidupnya yang berkelok-kelok memberikan pelajaran baginya bahwa hidup harus bermanfaat dan punya tujuan. Kalau tidak bermanfaat dan justru merugikan sekitarnya, lalu apa gunanya aku hidup, begitu pikirnya.

Tujuannya jelas, ia ingin menjadi orang sukses yang bisa memberikan manfaat bagi orang-orang dan lingkungannya. Dan itu ia lakukan untuk mendapat ridho Allah. Sudah cukup masa lalunya yang kelam membuatnya tersesat. Ia ingin kembali ke jalan yang semestinya. Ia ingin lentera hatinya kembali terang yang sebelumnya redup karena tertutup dosa yang kotor. Dengan lentera hati yang bersinar, ia jadikan itu sebagai penerang bagi dirinya dan orang sekitarnya agar tidak tersesat dalam melewati jalan hidup yang lurus untuk mencapai ridho Allah.

Namun ia merasa tidak mampu melakukan sesuatu yang bermanfaat melainkan sedikit. Ilmuny sedikit, pahala itupun kalau ada. Kalau dosa dan kebiasaan buruknya itu baru banyak. Tapi ia tidak menyerah begitu saja. Kalau hidup hanya untuk menyerah, tidak mungkin ia diberi kehidupan di dunia. Kemudian ia rajin belajar. Dengan belajar ia bisa mendapat ilmu. Dengan ilmu ia bisa tahu bagaimana cara mengelola bumi ini (berdasarkan surat Al-Baqarah:30). Saat belajar ia menemui kesulitan. Ia merasa sulit memahami ilmu tersebut. Kemudian setan datang dan ngomong,
“Ah, ini orang sok rajin banget sih. Kayak professor aja. Udah lah, kamu sendiri udah tau kalau kamu ini bodoh. Jangan sok pinter gitu lah dengan rajin belajar. Nggak pantes kamu jadi orang pinter”
“Bener juga nih setan. Saya memang orangnya bodoh. Kayakny nggak pantes belagak rajin kayak orang pinter gini”, pikir si fulan. Hatinya yang ragu-ragu berhasil dipengaruhi setan. Oke lah, kalau saya nggak pantes jadi orang pinter, yang penting perbanyak ibadah.

Akhirnya si fulan rajin ibadah. Saat ia shalat, pikirannya tidak khusyuk. Pikrannya ngelantur ke mana-mana. Setelah shalat ia berdo’a memohon ampun karena dosanya banyak dan bahkan sholatnya aja nggak dilaksanakan dengan baik. Ia juga memohon agar ia menjadi orang yang selalu berusaha di jalan-Nya dan tidak pernah putus asa. Kemudian setan datang lagi,
“Ah, ini orang sok alim banget sih. Kayak ulama besar aja. Udah lah, kamu sendiri udah tau kalau kamu ini banyak dosa dan hina. Jangan sok suci gitu lah dengan rajin beribadah. Nggak pantes kamu jadi orang alim”.
“Bener juga nih setan. Saya memang banyak dosa. Kayaknya nggak pantes belagak sok suci gini kayak orang alim”, pikir si fulan. Hatinya yang ragu-ragu kembali berhasil dipengaruhi setan. Oke lah, kalau nggak pantes jadi orang alim, yang penting perbanyak berbuat baik dengan orang.

Si fulan senang menolong orang lain. Saat ada orang lain yang meminta bantuan, ia langsung membantunya selama ia mampu. Dan lagi-lagi setan datang dan ngomong. Namun sebelum setan ngomong, malah si fulan terlebih dahulu ngomong,
“Ah, ini orang sok pahlawan banget sih. Kayak pahlawan tokoh komik aja. Udah lah, kamu sendiri udah tau kalau kamu ini banyak kesalahan. Jangan sok suci gitu lah dengan suka nolong. Nggak pantes kamu jadi orang baik. Itu yang pengen kamu sampaikan kepadaku kan, setan?”, si fulan udah tau apa yang akan dikatakan setan. Setan malah kaget. Kok tahu yang akan dikatakannya. Meskipun kaget, setan kembali ngomong.
“Iya bener itu. Makanya, berhentilah mencari ridho Allah. Nggak pantes kamu mendapatkannya. Kamu ini banyak dosa”, kata setan.
“Ah, ini setan sok optimis banget sih. Kayak pejuang aja. Udah lah, kamu sendiri udah tau kalau kamu ini sering gagal menggoda kaum muslimin yang teguh hatinya di jalan Allah. Jangan sok optimis gitu lah dengan suka menggoda umat Muhammad. Nggak pantes kamu jadi setan yang optimis”, si fulan balik membalas perkataan setan. Setan kaget dan kehabisan akal. Ia tidak menyangka malah ia sendiri yang digoda. Biasanya setan yang menggoda umat manusia, ini kok malah setan yang “digoda” manusia biar putus asa.

Si fulan belajar dari kesalahan-kesalahan sebelumnya. Sebelumnya ia digoda terus oleh setan. Setan tidak pernah putus asa menggoda manusia. Kalau setan yang dimurkai Allah saja tidak pernah putus asa, apalagi kita yang tuhannya adalah Allah Maha Penolong? Harus lebih optimis lagi. Harus lebih tidak putus asa lagi dalam mencapai ridho Allah.
“Sudahlah, setan. Kau silahkan tidak berputus asa menggoda manusia. Saya juga tidak akan berputus asa dalam mengharap ridho Allah. Saya tidak akan berputus asa berikhtiar dan berdo’a demi Allah agar selalu dekat dengan-Nya”, Si fulan menambahkan. Mendengar ucapan dia, setan itu pun akhirnya pergi.

Dalam hati si fulan berkata,
Saya memang bodoh, makanya saya belajar, bukannya sok rajin. Saya tidak peduli apakah jadi orang pintar atau nggak, yang penting dapet ilmu bermanfaat yang banyak.
Saya memang banyak dosa, makanya saya banyak beribadah, bukannya sok alim. Saya tidak peduli apakah nanti jadi ulama besar atau nggak, yang penting ibadahku diterima oleh Allah.
Saya tidak berkuasa menentukan takdir, makanya saya terus berikhtiar. Saya tidak peduli apakah yang ingin saya capai terkabul atau nggak, yang penting saya mendapat ridho Allah. Dekat dengan Allah. Dicintai dan disayang Allah.
Ikhtiar yang kulakukan adalah bentuk pengabdian kepada Allah.
Ya Allah, mantapkan hati ini untuk terus beribadah di jalan-Mu Ya Allah. Selalu dekat dengan-Mu.
Kalau suatu saat saya khilaf dan berdo’a yang membuatku menjadi jauh dengan-Mu, tolong jangan dikabulkan do’a itu, Ya Allah.
Engkau pasti lebih tahu mana yang khilaf dan tidak. Mana yang baik, mana yang tidak.
Kembalikan aku ke jalan yang lurus.
Selamanya… sampai mati dekatkan aku dengan-Mu.
Engkaulah yang berkuasa melakukan apa saja sesuai kehendak-Mu.
Dan Engkaulah Maha Pengabul Do’a

Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Az-Zumar:53)

Sebelumnya si fulan bingung dengan kegagalan dan kesulitan yang ia hadapi. Ia pikir Allah tidak suka padanya karena dulu ia termasuk orang yang suka menyia-nyiakan hidupnya meskipun ia sudah insyaf. Tapi ia berprasangka baik. Tidak mungkin Allah bersikap seperti itu terhadap hamba-Nya. Dan ayat tersebut menjelaskan hal itu. Akhirnya ia mengerti bahwa itu adalah cara Allah memberikan kebaikan padanya. Cara Allah mendidik dan menggembleng dirinya biar lebih kuat. Ia tidak akan tahu apa yang namanya optimis kalau tidak diberi cobaan. Ia tidak akan tahu yang namanya bangkit kalau tidak pernah merasakan keterpurukan. Ia tidak pernah tahu apa yang namanya berikhtiar demi Allah kalau tidak dihadapi kegagalan.

Setiap ia berusaha dan menemui kegagalan, ia kembali ingat dalam hatinya,
Setan saja yang dimurkai Allah tidak pernah putus asa menggoda manusia, apalagi saya yang tuhanku adalah Allah Maha Penolong? Harus lebih tidak putus asa lagi dalam mencapai ridho Allah.

2 thoughts on “Allah Menyuruh Tidak Berputus Asa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s