Pintu Cahaya

Nabilah siswi SMP yang mulai beranjak remaja tersenyum ketika melihat layar kecil hp-nya. Tampaknya ia mendapat pesan singkat yang membuatnya senang. Pipinya yang berubah menjadi kemerah-merahan membuat ibunya yang berada tidak jauh darinya penasaran dengan apa yang ia baca. Ibunya yang tahu persis dengan sifat dan tingkah laku anaknya sejak kecil itu tentu bisa menduga apa yang ada dalam pikiran Nabilah. Seperti wanita umumnya yang telah beranjak remaja yang tidak lepas dengan “pandangan”nya terhdap teman laki-lakinya.

Ibu itu mendekati Nabilah, anak bungsuh yang dicintainya itu. Tampak Nabilah jadi salah tingkah, ada perasaan malu, dan seolah-olah ada sesuatu yang disembunyikan. Ibunya semakin yakin dengan dugaanya bahwa anaknya sudah mulai mengenal kesukaanya terhadap lawan jenisnya. Namun ibunya tidak marah. Ia hanya ingin memberi pengertian bagaimana seharusnya Nabilah bersikap di saat usia remajanya yang rentan dengan pengaruh kurang baik di lingkungannya.

Ibunya kemudian berjalan di dekat Nabilah,

” Ehem..ehem….jatuh cinta berjuta rasanya, biar siang biar malam terbayang wajahnya…”, ibunya menyanyikan sedikit lirik lagu Eddy Silitonga.

“Mama apa’an sih, godain Nabilah aja”, Nabilah agak kaget ibunya berada di dekatnya. Ia pun jadi malu.

“Godain? Siapa? Mama? Loh, mama kan cuma nyanyi. Nah, ketahuan nih. Tampaknya anak ibu yang bungsuh ini sudah semakin dewasa aja, lagi berbunga-bunga kah Nabilahku yang cantik ini?”, ibunya menggoda anaknya.

Pipi Nabilah yang putih merona itu semakin memerah saja. Dia benar-benar malu kepada ibunya itu.

Suasana ruang keluarga itu terasa menyenangkan. Nuansa tempat yang elegan dan terangnya lampu kristal ruangan itu membuat tenang siapa saja yang ada di dalamnya. Keduanya duduk di sofa kulit yang cukup besar berwarna coklat dengan obrolan santai. Obrolan ibu dan anak perempuan seolah antar keduanya mempunyai ikatan kasih sayang yang kuat dalam keluarga. Nabilah pun akhirnya terbuka dengan apa yang sedang dialaminya. Ternyata benar, ada teman laki-lakinya yang mendekati Nabilah. Tentu saja, gadis remaja secantik dia pasti banyak laki-laki yang mengejarnya. Dan sebaliknya, diam-diam Nabilah juga menaruh hati pada temannya itu. Ibunya khawatir jika hal itu dibiarkan maka masalahnya bisa jadi tambah runyam.

” Nak, mama pengen nanya, apa rasa jatuh cinta itu benar-benar indah?”, tanya ibunya.

” Mama kayak nggak pernah muda aja. Ya tentu saja, ma. Nabilah tidak pengen kehilangan dia. Nabilah bahagiaa banget dengan perasaan ini, ma”, ujar Nabilah dengan terbuka dan tersenyum dengan perasaan yang berbunga-bunga.

” Bagaimana kalau perasaan indah itu tiba-tiba hilang? Bisa saja kan hal itu terjadi”, ibunya kembali bertanya.

Pertanyaan ibunya itu membuat senyum bahagia Nabilah tiba-tiba berubah menjadi perasaan khawatir. Ia seperti diingatkan bahwa di dunia ini tidak ada yang abadi. Tapi jujur, ia tetap ingin perasaan indah itu ada selama-lamanya dan tidak pernah hilang. Ia tidak mau perasaan itu hilang. Ia sangat bahagia dengan apa yang ia rasa saat ini terhadap teman laki-lakinya itu.

Ibunya sudah bisa membaca apa yang ada dalam benak anaknya itu.

” Nak, mama yakin Nabilah sangat bahagia dengan perasaan terhadap teman Nabilah itu. Nabilah bahagia seperti mendapat anugerah yang besar sekali. Bukankah seharusnya kamu berterima kasih atas anugerah yang kamu dapat itu?”, sambung ibunya.

” Tentu saja, ma. Nabilah bersyukuuuurr banget”, ujar Nabilah yang tetap dengan ekspresi chlidish-nya meskipun ia sudah mulai beranjak remaja.

” Nah, kepada siapa kamu bersyukur, Nabilah? Kepada teman laki-lakimu itu kah atau kepada siapa?”, Ibunya mulai mengarahkan pertanyaan.

” kepada Allah, tuhan yang menciptakan”, Nabilah secara reflek mengatakannya dengan pelan dan suara lirih seolah dia sembari memikirkan sesuatu.

Ya, Nabilah mulai memahami bagaimana seharusnya dia bersikap. Ibunya melihat sikap anaknya yang tampak mulai mengerti. Ibunya membiarkan sejenak agar Nabilah memahami semuanya.

Nabilah mulai berfikir. Benar, rasa indah cinta itu adalah Allah yang menciptakan. Saya nggak akan merasakan indanya cinta itu kalau Allah tidak menciptakannya. Lalu kenapa saya malah menyalahgunakan cinta itu? melupakan rasa syukur anugerah itu? Malah melupakan siapakah yang menciptakan manisnya cinta itu? Malah hampir melakukan sesuatu yang tidak diperkenankan oleh-Nya? Seharusnya saya pantas dimurkai oleh-Mu,Ya Allah. Meskipun jujur saya tidak sanggup menerimanya. Engkau justru masih memberikan kesehatan padaku dan keluargaku. Kecukupan dalam rezeki. Kasih sayang dalam keluarga, ilmu yang bermanfaat, dan banyak lagi sampai tidak bisa terhitung jumlahnya. Ya Allah, ampunilah hamba. Hamba tidak tahu diri. Diberi anugerah yang sangat banyak tapi malah melupakan-Mu.

” Sudah malam, Nabilah. Tidur dulu sana biar besok di sekolah nggak ngantuk”, ibunya menyuruhnya tidur agar Nabilah sambil merenungi apa yang ia pikirkan. Tampaknya ibunya cukup berhasil mengarahkan anaknya itu. Nabilah berjalan ke kamarnya dengan wajah tertunduk dan dahi mengkerut, seolah benar merenungkan apa yang barusan ia perbincangkan dengan ibunya.

Saat tengah malam, ibunya terbangun karena kebelet ingin ke toilet. Saat berjalan, ibunya penasaran karena terlihat dari lubang-lubang angin kamar Nabilah lampu kamar menyala. Saat ibunya mendekati kamar Nabilah dan mengintip dari pintu kamarnya yang sedikit terbuka, ibunya terharu. Ia lihat anaknya melaksanakan sholat tahajjud. Sesudahnya Nabilah berdo’a,

Ya Allah,

Ampunilah hamba-Mu ini

Yang selalu lupa akan nikmat-Mu

Jagalah hati hamba agar selalu berada di jalan-Mu yang lurus

Agar selalu berada di jalan yang Engkau ridhoi

Terima kasih Ya Allah telah mengingatkanku

Jika suatu saat saya kembali khilaf, ingatkanlah hamba

Kembalikanlah hamba kembali ke jalan yang lurus

Hingga ikatan hamba-Mu ini dengan Engkau tuhanku semakin kuat dan erat

Yang tidak ada sesuatupun yang bisa melemahkan dan melepas ikatannya.

Hanya Engkau yang berkuasa atas segala sesuatu

Maka saya memohon, bimbinglah hamba agar selalu berada di jalan-Mu yang lurus

Kuatkanlah ikatan hamba kepada Engkau tuhanku menjadi semakin kuat dan erat

Yang mencintai-Mu dan Rasulullah dengan sepenuh hati sampai mati…

Sampai mati……

Nabilah berdo’a dengan linangan air mata. Ia menyadari bahwa diciptakannya cinta itu adalah bukti kecintaan-Nya kepada hamba-Nya. Ia berusaha menggunakan anugerah itu sebagaimana mestinya yang Allah perintahkan. Karena kedudukan Allah yang Maha Tinggi namun masih mencintai hambanya yang kedudukannya rendah dan memberinya anugerah yang sangat banyak, Nabilah menjadi tersanjung. Ia menyadari itu semua dan mencintai Allah dan Rasulnya.

Dibalik pintu tersebut, seorang ibu seperti ada di pintu cahaya. Ia terharu melihat anaknya yang masih SMP itu yang secara tidak sadar semakin juga mengingatkannya kepada Allah. Ia meng-amini doa’ anaknya itu.

Ya Allah jagalah ia agar selalu teguh berada di jalan-Mu

Semoga ia menjadi generasi penerus muslimah yang haus akan ilmu bermanfaat

Menjadi generasi penerus muslimah yang selalu berusaha di jalan-Mu

Amien

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s