Hidup Berkah

Cerita ini saya ceritakan kembali dari kisah program TV Lorong Waktu dulu. Karena ini acara TV saat saya masih kecil dulu, jadi maaf, saya ceritakan seingat saya dan diubah sedikit tanpa mengurangi makna yang ingin disampaikan.
Pada suatu hari ada seorang ulama yang bisa dibilang do’anya sangat mustajab. Kemudian ada lagi 2 orang yang ingin dido’akan oleh ulama tersebut agar keinginan mereka masing-masing terkabul. Anggap saja Ahmad dan Burhan. Ahmad menginginkan kekayaan yang banyak, pekerjaan yang banyak, dan juga punya banyak perusahaan. Sedangkan Burhan simpel saja, dia menginginkan hidup berkah dunia dan akhirat. Ulama itu pun mendo’akan mereka kepada Allah sesuai keinginannya.

Waktu terus berjalan dan tidak sampai terlalu lama, do’a – do’a mereka terkabul. Ahmad punya jabatan tinggi, banyak pekerjaan, dan banyak perusahaan. Tentunya kekayaan yang banyak yang ia dapat. Senang sekali dia dengan hartanya yang melimpah itu. Tapi kesenangan itu tidak berlangsung lama. Kenapa demikian? Karena dia sangat sibuk, pekerjaannya banyak. Dia tidak sempat untuk menikmati kekayaannya yang melimpah itu. Gara – gara sibuk, jangankan anak, istri saja juga gak punya. Sehari-harinya tiada hari tanpa kerja “pusing”. Pusing dengan pekerjaannya, kewalahan, dan stress, akhirnya sering sakit-sakitan. Dia teringat dengan temannya dulu, Burhan. Ahmad jadi iri pada Burhan.

Sekarang Burhan hidup sebagai bisnisman. Ya, meskipun bisnisnya tidak terlalu besar dan hidup sederhana, tidak terlalu kaya, tapi dia bahagia. Pekerjaannya tidak terlalu banyak menyita waktu, punya banyak waktu untuk keluarga, mendalami ilmu agama, beribadah, dll. Namun, suatu hari, keluarga Burhan diberi rezeki dan sekaligus masalah. Rezekinya ketika itu adalah tidak disangka anaknya diterima di salah satu perguruan tinggi terbaik di Indonesia dan masalahnya Burhan membutuhkan biaya sekitar 34 juta untuk biaya pendaftaran kuliah anaknya. Biaya yang tidak sedikit. Istrinya juga bingung karena uang itu harus ada secepatnya. Burhan tetap tersenyum menenangkan istrinya dan meyakinkannya Insya Allah ada jalan. Kemudian ada telpon dan Burhan mengangkat.

“Assalamu’alaikum. Ini siapa?”, tanya Burhan.

” Wa’alaikumsalam, Pak Burhan. Ini Akbar (hehe..ikut2an main ni ceritanya). Oiya, begini, Pak Burhan. Tentang bisnis kita, saya menyepakati tentang yang sudah kita bicarakan sebelumnya waktu itu. Jadi saya akan langsung kirim uangnya 35 juta sebagai uang muka. Nanti sisanya saya kirim lagi setelah proyek ini selesai. Oiya, no rekening Pak Burhan berapa? Saya lupa nanya waktu itu”

“Alhamdulillah. Oke, begitu juga bagus. No rekening saya 08193513xxxx “, jawab Pak Burhan.

” Wah, itu kan nomor hape saya. Yang serius dong. Ini cerita note-nya kan lagi serius”, ujar Akbar dengan ekspresi serius.

” Oiya, no rekeningnya 0123456789″, kata Burhan.

“Ok, terima kasih. Semoga kerjasama bisnis kita lancar. Amien. Wassalamu’alaikum, Pak Burhan”

” Amien. sama-sama Pak Akbar, wa’alaikumsalam”.

Burhan menutup telponnya. ” Ada apa, pa?”, tanya istrinya. Kemudian Burhan menceritakan kepada istrinya apa yang baru saja terjadi. Kemudian istrinya mengucap syukur Alhamdulillah dengan sangat. Sesuai dengan do’a Burhan waktu itu, dia menginginkan hidup berkah di dunia dan akhirat. Inilah yang namanya hidup berkah. Tidak sampai terlalu memaksakan diri dengan harta berlebih. Hidup sederhana juga tidak terlalu masalah. Yang penting rezeki itu ada di saat diperlukan. Allah-lah Yang Maha Mengetahui tentang apa yang dibutuhkan hamba-Nya pada saat yang tepat. Hidup Burhan jadi tenang dan bahagia.

Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu. (At-Thalaaq : 3)

Saya ingat ketika almarhumah eyang saya mengutip sebagian dari Surat At-Thalaaq ayat 3 itu. Ketika itu beliau datang ke rumah sambil membawakan makanan buatannya. Meskipun hanya makanan, tapi itu juga rezki. Enak lagi. Dan memang tidak disangka waktu itu beliau akan membawakan makanan untuk kami. Dan tidak kalah menariknya, kedatangan beliau seolah-olah mengajarkan saya tentang surat At-Thalaaq ayat 3 itu dengan mengatakan di saat kedatangannya itu, ” Allah memberikan rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka”. Ya, beliau seolah-olah mengajarkan lewat “peristiwa” dan mengatakan kutipan Surat Ath-Thalaaq tadi.

Saya-pun juga teringat kata orang tua ku, “Hidup yang penting berkah”. “Berkah?”, tanyaku ingin tahu lebih jelas. ” Berkah, saat dibutuhkan rezeki itu ada”. Benar juga, pikirku. Kalau harta banyak tapi kebutuhannya lebih banyak sama aja bohong. Meskipun sederhana, tapi di saat dibutuhkan, rezeki itu ada, memang lebih baik pilihan kedua. Namun bukan berarti dilarang kaya. Justru itu juga patut di ikhtiarkan. Dengan kaya kita bisa bersedekah, nyari pahala. Masalahnya bukan dari banyak atau sedikitnya harta, yang penting berkah, bermanfaat. Harta itu penting, tapi moga saja tidak sampai dikuasai oleh harta itu hingga tujuan utama kita mendapat kebahagiaan justru tidak tercapai. Jadi, dalam setiap do’a-pun kita bisa memohon kepada Allah agar diberi hidup berkah. Amien

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s