Matahari di Kala Senja

Sudah kemana-mana Hanif Nazmi mencari pekerjaan, namun tak kunjung didapat. Tidak seperti teman-temannya yang beruntung, yang mudah mendapat pekerjaan yang layak. Entah kenapa selalu saja ada masalah yang dihadapi Nazmi. Gagal di syarat administrasi, pernah kecelakaan saat akan mengikuti tes wawancara, dll. Dia sudah lelah dan tampak putus asa untuk mencari pekerjaan.

 

Kali ini ada lowongan kerja sebagai pegawai di lembaga tertentu. Kali ini jika dia masih gagal, dia sudah berniat untuk berhenti mencari lowongan kerja lagi, sudah capek. Akhirnya dia memeprsiapkan segala sesuatunya untuk tes. Mulai dari awal tes dia selalu berhasil lolos ke tahap selanjutnya karena pada dasarnya dia adalah orang yang mempunyai banyak potensi. Alhamdulillah, namun dia tetap pesimistis. “Ah, paling saat di akhir pasti ada masalah dan saya pasti gagal lagi”, pikir Nazmi. Untuk sampai ke tahap tes terakhir hanya ada 2 orang yang lolos, Nazmi dan Herdi. Ternyata Herdi adalah teman lama Nazmi. Nazmi berbincang-bincang dengan Herdi. Ditengah pembicaraan itu Herdi berkata pada Nazmi, “Saya bakal “nembak” pekerjaan ini. Jaman sekarang susah dapat pekerjaan apalagi untuk masuk di lembaga ini. Nanti saya akan bayar 20 juta”. Nazmi sedikit terkejut karena temannya menggunakan cara seperti itu. Ada dalam pikiran Nazmi untuk melakukan seperti itu juga. Akhirnya dia mencari uang pinjaman kepada kerabat dan teman-temannya. Namun dia hanya mendapat 12 juta. Uang sebesar itu tidak cukup untuk “membeli” pekerjaan. Akhirnya ia gagal lagi.

 

Dia istirahat di masjid. Sholat dan sembari melepas kejenuhan. Di masjid itu ada orang sedang mengaji. Terdengar surat Al-Baqarah ayat 216 yang dibaca. Nazmi merenung perjalanan hidupnya dalam mencari pekerjaan yang selalu gagal. Dalam hati dia berkata, seandainya saya bisa mendapat uang pinjaman setidaknya 20 juta, mungkin saya sudah dapat pekerjaan dan tidak berputus asa seperti ini. Dia mengeluh pada Allah, “Ya Allah, padahal Engkau Maha Kaya, tapi kenapa hanya 20 juta saja Engkau tidak memberikan kepadaku”. Kemudian ada seorang penjaga masjid yang menegur Nazmi karena tampak murung sekali. Akhirnya mereka berbincang dan Nazmi menceritakan masalahnya itu yang sudah lelah dalam hal mencari pekerjaan. Penjaga masjid itu tersenyum. “Kamu ini kok aneh. Kamu yakin Allah Maha Kaya dan rezekinya luas, tapi malah sibuk bagaimana mencari uang untuk “membeli” pekerjaan itu. Bukannya untuk menggapai rezeki Allah tidak harus bekerja menjadi pegawai atau karyawan?”. Benar juga kata penjaga masjid ini. Kenapa saya malah berpikir harus mencari lowongan kerja sampai-sampai mau membeli pekerjaan? Ah, bodoh sekali aku, hampir saja terjebak dalam perbuatan dosa.

 

Sekarang Nazmi mulai berbisnis. Dari uang pinjaman yang ia dapat sebelumnya, ia jadikan modal untuk membuka toko buku. Alhamdulillah usahanya sukses. Dalam kesehariannya pun ia juga membaca buku-buku di tokonya. Ilmu agamanya semakin mantap, pengetahuannya bertambah luas, dan pola pikirnya semakin cerdas. Dari keuntungannya, dia mengembangkan bisnisnya hingga restoran dan jasa transportasi. Dia juga melunasi hutang-hutangnya itu. Sekarang dia menjadi orang sukses. Status sosialnya menjadi orang yang terpandang namun tetap rendah hati. Dia juga dikenal kejujurannya, termasuk dalam berbisnis.

 

Suatu hari sehabis pulang dari masjid sesudah shalat Isya’, Nazmi bertemu tetangga barunya, Pak Budi. Dalam perjalanan mereka berbincang.

“Begini, nak Nazmi. Nazmi ini kan orangnya baik, mapan, ganteng, dan masih bujang. Meskipun saya baru pindah beberapa minggu di sini, tapi saya percaya nak Nazmi. Sebenarnya keluarga kami ada masalah. Saya bermusyawarah dengan istriku dan solusinya saya ingin menjodohkan nak Nazmi ini dengan putriku”, kata Pak Budi.

“Hmm…? Masalah? Hmmm….ya, mungkin sudah saatnya juga saya menikah, Pak Budi”, kata Nazmi.

“Kalau mau nanti saya akan bilang pada Nadia, putriku”, kata Pak Budi

“ Nadia? “ tanya Nazmi penasaran.

“ Iya, Nadia Silvia Putri”.

“ Jadi Nadia lulusan kedokteran Unair yang cantik itu putrinya Pak Budi?”, Nazmi agak kaget dan keceplosan bertanya seperti itu kepada ayah dari wanita itu. Nazmi tiba-tiba menjadi agak gugup dan ada rasa tidak percaya.

“ Iya, benar. Tampaknya Nazmi ini setuju. Kalau begitu secepatnya akan saya bicarakan bersama keluarga. Sudah ya, Assalamu’alaikum”, kata Pak Budi.

“Wa’alaikumsalam”, jawab Nazmi dengan sedikit rasa tidak percaya dan senang.

Akhirnya Nazmi dan Nadia jadi menikah. Nadia yang di awal pernikahan agak sedih, sekarang justru bahagia setelah semakin mengenal Nazmi pilihan ayahnya itu. Nazmi pun juga bersyukur mendapatkan istri yang pintar dan sholeha.

Suatu waktu mereka berlibur. Dari hotel pinggir pantai mereka melihat sunset di senja hari. Nazmi tersenyum.

“Kenapa mas tersenyum?”, tanya Nadia.

“Hehe..saya teringat beberapa waktu lalu, susah sekali untuk mendapat pekerjaan. Sampai-sampai hampir melakukan perbuatan dosa. Saya bersyukur karena Allah menjaga saya dari perbuatan itu. Seandainya uang 20 juta itu ada, mungkin saya tidak seperti sekarang. Ternyata Allah memberikan jalan yang jauh lebih baik dan lebih berkah”, Nazmi menceritakan masa lalunya.

“ Saya juga bersyukur dulu hubungan saya dengan Herdi tidak direstui oleh orang tuaku. Berkali-kali ayah dan ibu memberi pengertian agar saya tidak melanjutkan untuk menikah dengan Herdi”, kata Nadia.

“ Ow, jadi….masalah yang dimaksudkan ayah (Pak Budi) waktu itu….” Nazmi memotong pembicaraan.

“Iya, ayah tidak setuju karena Herdi dirasa tidak cocok jadi menantu ayah. Makanya ayah cepat mencarikan lelaki yang dikira cocok jadi suamiku. Saya bersyukur patuh pada orang tua dan tidak jadi menikah dengan Herdi karena pada akhirnya……”, Nadia tidak melanjutkan pembicaraannya.

“ Karena pada akhirnya?”, Nazmi penasaran ingin tahu lebih jelas.

Nadia hanya tersenyum. Pipinya memerah seperti matahari di kala senja itu. Bacaan surat Al-Baqarah ayat 216 seperti menggema langit senja yang terdengar dari masjid dekat hotel.

 

Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. (Al-Baqarah:216)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s