Mencari Makna dan Tujuan Hidup

Sebenernya apa itu bahagia atau senang. Mendapat harta banyak? Dapet penghargaan? Liburan? Dapet jabatan tinggi? Dapet jodoh cakep? Cukup banyak orang yang mendapatkan itu semua tapi gak senang n bahagia. Sebenarnya masalah ada pada manusia yang tidak pernah puas. Kalau kita liburan terus apakah kita senang? Sekarang mengatakan iya, tapi setelah menjalaninya lama-lama tidak ada perasaan senang. Sebenernya senang itu adalah “proses” dari suatu perasaan tertentu ke perasaan lain yng lebih “senang”. Jadi kalau “senang” terus, itu gak bakalan senang. Tapi kalau dari agak “susah” ke perasaan “senang”, baru itu namanya senang. Kita yang gak pernah naik Ferrari misalnya, tiba-tiba dapet hadiah tu mobil pasti seneng banget. Tapi bagi orang tajir yang mobil Ferrarinya sudah banyak di garasi, sudah dikasi ke anak, istri, pak lek, kakek, dan pembantunya dan dijadiin angkot masih “sisa”, tentunya dapet tu Ferrari ngerasa biasa-biasa saja. Sekarang kita liat lagi bukan dari materi. Lagu, film bisa membuat kita tersenyum bahkan ketawa. Saat mendengar lagu di saat baru mulai intro, anggap aja kondisi perasaan kalian adalah perasaan A (datar). Saat reff, kondisi perasaan kalian jadi perasaan B (ada perasaan semangat). Nah, proses perubahan perasaan A ke B inilah yang sebenarnya dikatakan “senang” atau menyenangkan. Kalau dari awal, perasaan kalian hanya B saja, saya yakin tidak akan ada suatu emosi atau perasaan yang pasti perasaan senag sedih juga gak ada. Sama, sedih juga seperti demikian. Kalau dari awal kita biasa “susah” tampaknya kita santai-santai aja. Tapi kalau dari perasaan “senang” ke “susah”, itu baru sedih. Mungkin setelah mengerti ini, banyak orang yang akan mengatakan “ternyata untuk mendapatkan perasaan senang seperti itu caranya,tinggal “susah” dulu baru ke “senang”. Gampang”. Coba lakukan kembali. Setelah sering seperti itu, saya yakin kembali ke sifat manusia. Manusia tidak pernah puas. Jadi setelah menjalani tingkat ini, ada tingkat baru yang menyebabkan “cara” tadi tidak efektif untuk membuat manusia senang. Karena sudah mengerti “cara” tadi dan akhirnya jadi bosan. Setelah “cara” tadi tidak efektif, manusia mencari tahu bagaimana cara agar senang.

Saat semua yang diperoleh tidak membuatnya bahagia, akhirnya manusia memberikan sebagian rezekinya ke orang lain. Saat orang lain tersebut respect terhadap orang yang memberinya tadi, orang ini kembali mendapat kepuasan batin. Ternyata bahagia itu adalah memberikan kebahagiaan kepada orang lain. Kembali setelah melakukan terus menerus ini, ada suatu kebosanan dan bertanya untuk apa saya melakukan seperti ini. Karena kita semua akan ada saatnya meninggal dan harta tidak akan dibawa mati.

Kayaknya kesenangan/kepuasan/kebahagiaan yang dicari banyak sekali tingkatannya dan setiap ketemu caranya, tetap belum ketemu titik akhir. Tampaknya ada yang salah. Di sini ketemu problemnya. Ah, gak kepikiran daritadi. Problemnya adalah manusia yang tidak pernah puas. Kalau tujuan kita adalah mencari kesenangan atau kebahagiaan, tampaknya kita gak bakal menemukan itu. Manusia yang tidak pernah puas, ingin melakukan apa saja yang mereka pikir akan mendapat kebahagiaan dan setelah semua tercapai, selalu bertanya-tanya untuk apa mereka melakukan seperti itu. Seperti fatamorgana air di padang pasir. Tampaknya tujuan kita mencari kebahagiaan adalah salah.

Mari kita bertanya-tanya lagi dengan sifat manusia yang tidak pernah puas. Sekarang bayangkan kita sedang berada pada masa awal, seolah-olah kita baru hadir di dunia, namun kita sudah bisa berpikir seperti sekarang. Tidak ada masa lalu, hanya sekarang dan masa depan. Saat kita bisa melihat tangan, kaki, orang lain, dan apa-apa yang ada di sekitar, kita pasti bertanya-tanya. Siapa saya? Kenapa saya ada? Kenapa mereka ada? Apa yang saya butuhkan sudah ada, tinggal mengolahnya. Untuk apa saya ada? Dengan pertanyaan yang mendasar seperti ini, tampaknya kita uda “nyerempet” ke masalah spiritual. Alasan kenapa ini semua ada dan untuk apa ini semua ada. Jawaban semuanya adalah Allah. Jadi inilah tujuannya,

Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku. [Adz-Dzariyat: 56].

Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” [Al-Baqarah : 30)

Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami? [Al-Mu’minun : 115]

Dengan tahu kemana tujuan kita, tentu kita punya pegangan dan tidak bingung lagi. Di sini lah diperoleh kepuasan batin yang mungkin pernah menjadi tanda tanya besar yang mendasar. Ternyata kita di kasi kehidupan di dunia karena punya tugas, menyembah Allah, mengelola apa yang dititpkan pada kita. Apa saja yang dititipkan pada kita? Yaitu semua yang Allah karuniakan pada kita. Kenapa kita mau belajar ilmu matematika, kimia, fisika, biologi, ekonomi, sosiologi, geografi ya karena ilmu-ilmu tadi adalah salah satu jalan agar tahu bagaimana cara mengelola dunia ini. Jika tujuan kita adalah kebahagian, maka kita tidak akan menemukan kecuali cuma sesaat. Kalau tujuan kita adalah Allah, maka akan ada kepuasaan batin dan memberikan ketenangan dan kebahagiaan terus-menerus dalam kehidupan sehari-hari. (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah.

Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram. [Ar-Ra’du : 28]

Lalu kenapa kita harus menyembah atau mau melakukan sesuatu demi Allah? Sebenarnya Allah sangat mencintai hamba-hamba-Nya. Lagipula yang diperintahkan Allah adalah demi kebaikan kita juga. Tampaknya masih banyak yang belum menyadari kecintaan Allah kepada hamba-hamba-Nya. Mari kita lihat alam ini. Allah bisa saja membuat matahari lebih dekat dengan bumi sedikit saja. Meskipun sedikit, tapi pengaruhnya bisa fatal. Kita bisa sangat kepanasan, bahkan terbakar. Allah bisa saja membuat bumi tidak ada gravitasi. Tapi kalau tidak ada gravitasi, udara, oksigen tersebar kemana-mana bahkan ke langit. Kalau lapisan bawah udara sedikit oksigen, bisa sesak nafas, tersiksa. Apalagi kalau gak ada udara, tekanan udara gak ada, bisa-bisa apa yang ada di dalam tubuh kita keluar karena tekanan di dalam tubuh jauh lebih besar dari lingkungan luar, bisa mati kita. Di tengah ada masalah atau pilihan yang ternyata solusinya bukan yang kita inginkan, kadang kita menggerutu. Tapi saat kita tahu akhirnya itu memang yang terbaik, baru kita sadar, Allah memang memberi yang terbaik, padahal kita masih sempat menggerutu. Kita diberi banyak karunia, kebahagiaan, kasih sayang dalam keluarga, dan cinta dalam sepasang kekasih. Tapi mungkin banyak yang lupa semua itu ada/ diciptakan karena kecintaan Allah kepada hamba-Nya. Dan masih banyak lagi karunia-karunia Allah lainnya. Jadi memang Allah mencintai hamba-hamba-Nya. Masak iya sih, kita mau jadi makhluk-Nya yang tidak tahu diri. Dari sini kita sadar dan tahu diri, kita memang hamba-Nya, sebenarnya kita yang butuh Allah, dan Allah tidak sedikitpun membutuhkan apa-apa dari kita.

Dan jangan katakan karena kita terus beramal soleh bisa terbalaskan kebaikan Allah kepada kita dan kita pantas masuk surga. Allah tidak membutuhkan apa-apa dari amal kita, proses dalam hidup kita lah yang akan dipertimbangkan Allah.

Kata Nabi SAW, “Amal soleh yang kalian lakukan tidak bisa memasukkan kalian ke surga”. Lalu para sahabat bertanya: “Bagaimana dengan Engkau ya Rasulullah ?”. Jawab Rasulullah SAW : “Amal soleh saya pun juga tidak cukup”. Lalu para sahabat kembali bertanya : “Kalau begitu dengan apa kita masuk surga?”. Nabi SAW kembali menjawab : “Kita dapat masuk surga hanya karena rahmat dan kebaikan Allah semata”.

Bahkan orang yang banyak beramal saleh aja tidak pantas masuk surga karena saking besarnya karunia Allah yang tidak bakal pernah bisa terbalaskan oleh amal-amal kita, meskipun amal itu sempurna sekalipun. Kita hanya bisa semaksimal mungkin melakukan sesuatu demi Allah. Jadi dalam beribadah tujuan kita tidak sekedar kebahagiaan atau ingin masuk surga, tapi karena Allah, rahmat dan kebaikan Allah. Dengan kata lain ikhlas dalam beribadah. Inilah cinta yang berhubungan dengan tuhan, yaitu Allah. Tentu kita tahu, kalau sudah cinta, semua kita lakukan dengan ikhlas. Hmm…bukan maksud saya sok suci. Saya juga banyak salah. Tapi mari sama-sama ngingetin, sama-sama terus melakukan perbaikan untuk menjadi hamba Allah yang baik. Dengan menyadari betapa banyak dosa kita, tapi dengan rahmat dan kebaikan Allah kita masih diberi karunia, mari mengucapkan dzikir, Subhanallah wa bihamdihi, Subhanallah hil adzim, Astaghfirullah (Maha Suci Allah segal puji bagi-Nya, Maha Suci Allah Tuhan Yang Maha Agung, aku mohon ampun kepada Allah)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s