Buruk Tak Selamanya “Buruk”

Pada suatu hari yang cerah, raja mengadakan perburuan bersama dengan penasihat dan pengawal-pengawalnya. Mereka bergerak ke tengah hutan dalam bentuk kelompok besar. Raja dan penasihatnya menunggangi kuda, sementara para pengawal mengikuti di sekelilingnya.

Raja dan penasihat sudah lama saling kenal. Mereka telah menjadi psangan tak terpisahkan ketika mengambil segala keputusan penting bagi Negara. Mereka berdua juga sahabat baik yang saling melengkapi satu sama lain.

Beberapa saat kemudian, terlihatlah seekor rusa dari kejauhan. Seluruh peserta perburuan segera mengambil posisi. Raja bersiap dengan busurnya. Raja tidak menyadari ada seekor ular yang merayap pelan menyusuri tanah di depan kudanya. Kuda pun kaget dan ketakutan. Ia mengangkat kakinya tinggi-tinggi. Menghindari ulat tersebut. Tentu saja raja kaget. Dengan busur di tangannya, dia tk mampu menyelamatkan diri. Raja pun terbanting ke tanah. Tangannya patah. Akhirnya penasihat memutuskan rombongan untuk pulang ke istana.

Sesampai di istana, raja langsung dirawat oleh tabib kerajaan. Dengan seksama sang tabib merawat luka raja dan membalut tangan raja. Raja kemudian memanggil penasihatnya yang setia.

“Tuhan membenciku, dia mencelakaiku hari ini.”

“Sepertinya tidak yang mulia, saya yakin ada rahasia kebaikan di balik peristiwa ini”, jawab si penasihat.

“Sekian lama kita bersahabat, baru kali ini kau menentang pendapatku. Sudahlah, kita tidak usah berteman lagi.” Karena rasa sakit yang dialalminya, raja menjadi sangat sensitif.

Keseokannya, raja mengadakan perjalanan ke tengah hutan. Kali ini bukan untuk berburu. Tapi hanya ingin menikmati keindahan alam di sekitar hutan raya. Rombongan yang dibawa tidak sebanyak yang dulu lagi. Hanya membawa beberapa orang pengawal saja.

Di tengah hutan, raja dan rombongan diserang sekelompok suku primitive yang sudah lama menguasai hutan itu. Tentu saja raja dan rombongannya langsung takluk di tangan suku asing itu. Raja ditawan.

Ternyata malamnya, suku itu mengadakan upacara persembahan korban untuk Dewa mereka. Karena raja adalah yang paling rupawan di antara mereka, ia langsung mejadi calon korban. Raja digiring menghadap kepala suku.

“Inilah calon korban kita malam ini, Tetua”. Begitu lapornya pada kepala suku.

“Biarlah aku periksa dulu.” Setelah memeriksa sekian lama, dia berkata, “Tidak, bukan dia.”

“Kenapa?” Tanya para penjaga itu.

“Lihat tangannya, sudah cacat dan penuh luka begitu. Korban yang baik adalah korban yang tanpa cacat. Dia tidak berguna. Lepaskan saja.” Akhirnya, raja dan pengikutnya dibebaskan.

Sesaat setelah dibebaskan, raja langsung teringat pada perkataan penasihatnya,

“Ternyata dia memang sahabatku yang baik, dalam setiap peristiwa pasti ada hikmahnya..” Katanya dalam hati.

Di istana, raja langsung mencari sang penasihat. Dia pun meminta maaf. Raja tak lupa menceritakan pengalamnnya yang baru dialaminya.

“Untung saya bertengkar dengan yang mulia.” Kata sang penasihat.

“Lho, kenapa?” Tanya sang raja keheranan.

“Kalau saya tidak bertengkar dengan raja, tentunya saya akan ikut dalam rombongan itu. Dan pasti sayalah yang akan terpilih jadi korban.”

Sang raja membenarkan pendapat sang penasihat.

Snack for The Soul

Sesuatu yang terjadi pasti ada hikmahnya. Sesuatu yang terjadi adalah yang terbaik untuk kita dan semuanya. Terserah kita mau menanggapi dengan sikap positif atau negatif. Kejadian buruk tidak selamanya “buruk”, jika kita bisa menyikapinya dengan bijaksana

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s