Ingin Ku Lukis Senyuman di Hati Orang Tuaku

Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.(QS31:14)

Alhamdulillah, Allah masih ngijinin saya untuk nulis lanjutan tulisan sebelumnya, Ingin Ku Lukis Senyuman di Hati orang Tuaku. Moga ada manfaatnya ya.

1) Kita harus tahu dulu siapakah yang berkuasa membuat hati orang tua tersenyum bahagia. | Kita sendiri, bar | Salah | Saudara kita, bar | Salah juga | Sule, bar | Salah | Tukul Arwana, bar | *Ting tong*. Kesempatan untuk menjawab udah habis. Maaf, hanya bercanda :)

Tidak ada yang berkuasa membuat hati orang tua kita, keluarga, teman-teman, pasangan hidup, bahkan kita sendiri jadi bahagia, tentram, nyaman kecuali hanya Allah. Selain-Nya hanya jalan saja untuk sampainya kebahagiaan dari Allah.

Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu.(Qs 112:2)

Kalau Allah udah menetapkan seseorang untuk bahagia, maka tak ada sesuatupun yang bisa membuatnya sedih, kecuali dengan izin Allah. Kalau semuanya bergantung pada Allah, mutlak berada dalam kekuasaan Allah, tentu kita bisa tahu, jika menginginkan kebaikan (entah kebahagiaan, ketentraman, rezeki, dan apapun itu ), tentu jangan bikin Allah murka. Gimana caranya agar Allah ridho pada kita, nggak murka.

Tapi itu ada yang sering berbuat jahat, bar. Ibadah nggak dilaksanain tetep hepi-hepi aja tuh | Tapi “senyum” di hatinya bisa nggak berkah. Bisa saja itu justru membuatnya terlena dan lupa terus kepada Allah dan sering berbuat jahat hingga akhirnya “numpuk” dosanya lalu saat tiba hari pembalasan kelak, jadinya……. “you know what i mean” *bahasanya sok bule*

Yang kita inginkan adalah kebahagiaan orang tua kita yang berkah, yang ada dalam jalan kebaikan. Karena khawatir kita berprestasi, alih-alih bersyukur kepada Allah, bisa jadi justru malah berlebihan dalam membangga-banggakan kita. Bisa jadi orang tua malah berlomba-lomba “pamer” kemampuan anaknya masing-masing ke orang lain. Tentu ini bisa jadi celaka. Kita nggak ingin orang tua kita bahagia hanya di dunia aja, bukan? Kita sangaaat meninginkan sekali bisa berkumpul lagi dengan keluarga di tempat yang paling membahagiakan kelak, yakni di surga. (Semoga terkabul. Aamiin). Di saat memasuki pintu surga dengan disambut para malaikat dengan ucapan salam

surga Adn yang mereka masuk ke dalamnya bersama-sama dengan orang-orang yang saleh dari bapak-bapaknya, istri-istrinya dan anak cucunya, sedang malaikat-malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu;(sambil mengucapkan): “Salamun ‘alaikum bima shabartum”. Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu. (QS 13:23-24)

Senangnya ya kalau bisa kumpul di surga.

2) Berdo’alah untuk orang tua kita, jangan lupakan terutama selesai sholat.

Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil”.(QS 17:24)

Seperti disebutkan sebelumnya, tidak ada yang berkuasa membuat orang tua kita bahagia kecuali dengan izin/kehendak Allah. Jadi, berdo’a kepada Allah adalah salah satu hal yang sangat penting.

3) Jangan Membantah
Selama itu di jalan kebaikan, maka janganlah membantah orang tua. Kalaupun nggak baik, bisa dibicarakan baik-baik dan dicari solusinya bersama-sama.

sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.(QS 17:23)
Keridhaan Allah tergantung kepada keridhaan kedua orang tua dan murka Allah pun terletak pada murka kedua orang tua. (HR. Al Hakim)

4) Tidak ada jumlah kuota untuk menjadi orang yang soleh.
Sering kita terjebak anggapan bahwa membahagiakan orang tua yakni dengan cara orang lain pada umumnya. Misalnya, ingin membanggakan orang tua dengan menjadi dokter yang kuliah di perguruan tinggi favorit. Tentu nggak semuanya bisa jadi dokter, karena kuotanya terbatas. (Tapi ikhtiar wajib ya). Tapi untuk jadi orang soleh, jumlahnya nggak dibatasi. Selalu ada kesempatan selama masih ada umur.

Nggak jadi dokter, masih bisa jadi perawat yang soleh. Nggak jadi direktur, selalu ada kesempatan untuk jadi karyawan yang soleh.

Bukan karena jadi direktur lalu orang tua kita akan jadi bahagia, tapi ketika Allah menjadikan orang tua kita jadi bahagia dan bangga pada anaknya, maka itu yang terjadi tanpa bisa dihalangi oleh siapapun. Jadi direktur, jadi pengusaha, jadi engineer, dll itu hanya jalan saja. Dan cara Allah untuk membahagiakan orang tua kita sangat luas sekali, bahkan seringkali dengan cara yang tidak terduga-duga. Optimislah. Satu pintu kebahagiaan tertutup, masih banyak yang lain. Allah yang berkuasa memberikan kebahagiaan.

Misalnya, saat kita tahajud. Lalu Allah membuat orang tua terbangun, kebelet ke kamar mandi, eh pas lewat dekat musholla, Allah membuat hati orang tua kita tertegun dan terhenyut sambil ngeluarin air mata, “Ya Allah, bersyukurnya aku dikaruniakan anak yang soleh lagi berbakti”. Bisa tuh kayak gitu, padahal simple aja ya.

5) Jadilah penyemangat orang tua.
Dengan menjadi seorang anak soleh yang bertawakkal kepada Allah, tentu dia akan menjadi seorang yang selalu optimis. Seperti poin sebelumnya, sandaran dia hanya Allah. Satu jalan kebahagiaan tertutup, masih ada jalan lain yang bisa Allah beri dari arah yang tidak disangka-sangka. Jadi sifat optimis ini bisa menular ke kedua orang tua kita. Misal orang tua sedang dilanda masalah. Sebagai anak selain membantu apa yang bisa dilakukan, yakni dengan memberi semangat optimisme pada orang tua.

“Nak, mama sedang sakit.”

“Nggak ada hal kecil sekalipun kecuali terjadi atas izin Allah. Jika disikapi dengan sabar, Allah kan menggugurkan dosa-dosa dan akan menaikkan derajat mama.”

“Tapi nak, ini sakit”

“Mama, kesulitan di dunia jauh lebih ringan daripada siksaan di akhirat. Karena Allah sayang pada mama, Allah menggugurkan dosa-dosanya saat ini di dunia lewat sakit ini, dan bisa jadi terselamatkan dari adzab akhirat yang berat. Tenang, ma. Allah selalu memperhatikan kita. Jadikan ini momen untuk mendekatkan diri pada Allah. Ada Allah yang berkuasa menyembuhkan”

“Tapi nak, sebentar lagi ayah pensiun. Sedangkan saudara-saudaramu banyak.”

“Mama, ikan anaknya juga banyak. Tapi tetep calm. Allah lah yang mengurus rezeki para makhluk-Nya. Manusia hanya berikhtiar sebagai amal ibadah. Allah sedang melihat kita saat ini dan selalu memperhatikan kita. Tenang, ma. Ada ayah dan anakmu di sini. Berdzikirlah, ingat-ingatlah dosa-dosa yang kita perbuat kepada Allah dan ingat-ingat apa aja yang Allah karuniakan pada kita. Jika kesulitan menimpa, ini memang episodenya demikian yang harus dijalani. Bersabar, Allah nggak bakal menyia-nyiakan pahala orang yang bersabar. Allah sedang memperhatikan kita saat ini”.

Ya, itu hanya contoh aja. Coba tuh, mantep banget kalau sandarannya Allah Yang Maha Kuat, Insya Allah hidupnya dikuatkan oleh Allah. Sikap optimisme anak bisa menular dan orang tua pun bisa jadi semangat dan tersenyum meskipun dalam keadaan sulit, ataupun sebaliknya. Dalam keluarga bisa saling menguatkan. Insya Allah.

Kesimpulan,
Jadi untuk membahagiakan dan membanggakan orang tua, kita harus beribadah sebaik mungkin pada Allah ya, bar? | Sebenarnya kita beribadah kepada Allah bukan karena orang tua, tapi sebaliknya, karena ketundukan kita pada Allah, maka kita ingin orang tua kita bahagia (sebagai amal ibadah). Lewat tulisan ini pun ingin menunjukkan bahwa jika tujuannya, sandaran hidup, alasan dibalik kita berbuat baik adalah hanya Allah, maka tak perlu lagi khawatir pada yang lain. Lakukan saja apa yang Allah suka. Allah nyuruh kita berbuat baik pada orang tua, ya lakukan. Allah nyuruh kita mendo’akan orang tua, ya lakukan. Allah suka pada anak yang menyayangi orang tuanya. Jika kita benar-benar mencintai Allah dan Allah ridho pada kita, itu timbal baliknya Allah berkuasa menanamkan kasih sayang pada kita untuk mencintai orang tua. So, cinta kita pada orang tua ternaungi dalam rahmat Allah. Fokuslah pada Allah. Dan biar yang lain Allah yang urus. Hati orang tua dalam genggaman Allah. Allah yang berkuasa membahagiakan mereka.
Bagaimana jika (maaf) orang tua kita ada yang mendahului kita? | Justru, kalau kita jadi anak yang soleh, bisa jadi ini menjadi penyelamat orang tua kita kelak. Karena do’a anak soleh adalah amal jariyah yang tidak putus pahalanya meskipun orang tua telah meninggalkan dunia ini. Dan semoga kita semua bahagia di dunia dan di akhirat kelak. Aamiin.

Rasulullah Saw ditanya tentang peranan kedua orang tua. Beliau lalu menjawab, “Mereka adalah (yang menyebabkan) surgamu atau nerakamu.” (HR. Ibnu Majah)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s